Jumat, 08 Juni 2012

Sakit




Kau tahu kan rasanya sakit itu?

Seperti yang aku rasakan, badan tak bertenaga, pandangan mata mengabur, badan panas, tenggorokan sakit, dan untuk makanpun rasanya pahit. Sungguh tidak enak, tidurpun juga tak nyenyak. Apalagi ketika sakit ndak ada mama yang merawat, bisa-bisa hati ini ikutan sakit karena nelangsa ngurus diri sendiri ketika sakit. Biasanya kalo aku sakit, mama selalu buatin bubur, menyiapkan obat, dan minuman hangat untukku. Tapi sekarang kan aku tinggal jauh dari mama :(, berbeda kota.

"Mbak, makanya di jaga, jangan ngemil gorengan nanti radang tenggorokanmu kumat loh." pesen mama seminggu yang lalu itu sama sekali tak kuhiraukan, al hasil aku pun jatuh sakit karena radang tenggorokanku kambuh. Seandainya saja aku menghiraukan nasehat mama, nggak akan begini jadinya.

"Bikin mama khawatir aja mbak kamu ini!" begitu kata mama mengetahui suaruku hilang sudah dua hari ini. Dan aku cuman mengangguk di telpon.

Tapi Sakit ini tlah membuatku menjadi manusia yang lebih menghargai untuk menjaga kesehatan dan juga menghargai nasehat mama untukku.
Dengan sehat kita dapat berfikir baik, aktifitas berjalan dengan baik, dan secara otomatis kita akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa.

Bersyukurlah Allah SWT memberikanmu kesehatan yang luar biasa hari ini.


-Strawberry-

The Power Of Giving



Jadi ceritanya semalam aku habis dapat telpon dari seorang perempuan bernama Erna. Nah, si Erna ini mengaku adalah orang yang pernah aku tolong sekitar lima bulan yang lalu. Dia berniat untuk bertemu denganku, ia ingin mengembalikan uang yang pernah  kupinjamkan padanya, sebenarnya sudah kuberikan sih, tapi dia masih ngotot mau balikin. Ya, masih jelas teringat olehku, saat itu aku sedang menunggu KA Gaya Baru di Stasiun Wonokromo menuju kota kelahiran saya, Madiun. Siang itu udara Surabaya sangat panas, calon penumpang tumpah ruah di dalam Stasiun yang kecil, wajar jika weekend begini banyak yang ingin bepergian ke luar kota dengan menggunakan transportasi darat, kereta api. 

Saya duduk manis di bangku kayu Stasiun sambil mendengarkan suara emas si pengamen jalanan yang belakangan baru ku ketahui dia adalah seorang gadis buta. Tiba-tiba seorang anak perempuan seumuran adekku datang menghampiriku, peluhnya berjatuhan, wajahnya diliputi kecemasan dan kebingungan. Setelah kutanya, ternyata dia habis kecopetan, Uang, tiket dan HP nya  raib di gondol orang yang tidak bertanggung jawab. Memang sih, masalah keamanan stasiun wonokromo masih menjadi PR pemerintahan Surabaya mengingat sering terjadinya tindakan criminal. Perempuan itu dari Banyuwangi, baru lulus SMU, dan berencana untuk ikut bekerja dengan kakanya di Jogja. Ah, aku merasa kasihan dengan anak itu, Ia sendirian dan sedang terkena musibah pula.

Dan kuputuskan untuk membantu semampu aku. Saat itu aku Cuma punya selembar uang lima puluh ribuan, selembar uang dua puluh ribuan plus uang receh kalau ada pengamen di dalam Kereta. Aku memang sengaja membawa uang seperlunya ketika sedang bepergian jauh menggunakan transportasi umum seperti Kereta Api maupun Bus. Semua yang kupunya kuberikan pada perempuan itu kecuali uang receh, aku rasa dengan uang segitu masih cukup untuk membeli tiket ke Jogja dan biaya menelpon kakaknya setelah sampai di Jogja nanti, syukur-syukur kalau masih sisa bisa dipergunakan untuk membeli makanan atau minuman selama di perjalanan.

Awalnya perempuan itu menolak bantuanku, tapi setalah ku paksa akhirnya dia mau menerima dengan syarat aku memberikan nomor telponku padanya, ia berjanji akan menghubungiku dan mengembalikan uang yang kuberikan padanya. Sesaat kemudian, aku mendengar petugas stasiun  menginformasikan kedatangan KA Gaya Baru di Jalur No 1 dan disanalah kami berpisah tanpa kutahu namanya juga tanpa dia tahu namaku. Aku bergeser ke jalur no 1 setelah memastikan barang bawaanku aman dan tidak terkena incaran para pencopet, biasanya saat-saat seperti ini para pencopet beraksi. 

Setelah berkejaran dengan penumpang lainya, akhirnya aku menempati tempat duduk yang strategis (Baca: Dekat Jendela dan terbebas dari perokok). Saat Kereta melewati Stasiun Krian, kenyamananku mulai terusik akibat tingkah polah cacing-cacing di dalam perutku yang meronta minta diisi dengan makanan. Aku kelaparan, uangku sudah kugunakan untuk membantu perempuan yang sedang kesusahan tadi, yang tersisa hanya uang receh, mana cukup untuk menukar sepiring nasi goreng di Kereta Makan?

Argh…aku hanya berdoa semoga maag ku tidak kambuh akibat telat makan. Amien.
Tetiba, seorang petugas KA menyapaku. Aku terkejut, kok dia bisa mengenaliku, oh ternyata beliau adalah teman kantor papaku di PT Kereta Api. Aku sudah lupa dengan beliau, tapi beliau masih mengingatku, dulu waktu aku kecil aku memang sering sih di ajak Papaku ke kantor, mungkin dari situlah teman Papaku mengenal aku. Allah SWT itu Maha Penyayang dan Pemberi Rizki kepada umatnya, melalui tangan teman papaku itu, aku diberikan sepiring nasi goreng dengan segelas es jeruk gratis. Allahamdullilah, Terima kasih Ya Allah.

Seminggu sudah berlalu semenjak kejadian itu, aku senang bisa membantu orang lain. Aku sama sekali tidak pernah mengharapkan imbalan sedikitun atas bantuanku tersebut terhadap orang lain. Tapi sekali lagi bahwa Allah SWT itu Maha Pemberi Rizki kepada setiap umatnya. Tanpa kuduga sebelumnya, sore hari sepulang kerja, aku mendapatkan telpon dari salah satu temanku yang memberitahukan bahwa dia sudah mentransfer uang bagianku hasil dari bisnis kecil-kecilan waktu aku masih di Jakarta. Amazing sekali, pikirku, aku iseng-iseng ikut modalin temen jualan baju, ternyata hasilnya lumayan sekali, sudah balik modal dengan keuntungan hampir 100 persen dari modal yang aku kasih ke dia. Syukur Allhamdullilah, Tuhan itu memang baik sekali. Terima Kasih Ya, Allah.

Ya, aku yakin dan percaya sekali bahwa memberi berarti juga menerima. Ketika kita memberi maka Allah SWT akan melipatgandakan apa yang kita beri. Jadi, inilah The Power Of Giving. Sungguh luar biasa bukan?
Memberi tidak hanya berwujud uang atau materi bisa berupa pengalaman, Ilmu, senyum, atau apapun yang bermanfaat bagi orang lain. Sekali lagi, kukatakan bahwa memberi itu sama dengan menerima.
Aku tidak bermaksud riya, aku hanya ingin membagi dan memberi kepada kalian semua tentang The Power Of Giving. Teman-teman punya pengalaman yang sama denganku? Bisa berbagi denganku?
Allhamdullilah, sesuatu banget ya…..

Have Nice Weekend.

Cintaku


Ngurah Rai International Airport, pagi hari, berhambur menuju pintu keluar bandara bersama penumpang pesawat lainya, telah sukses melemparkan diriku ke masa lalu. Saat aku dan kamu masih bersama, membagi kisah, harapan dan juga mimpi. Kau selalu berdiri di sana untuk menjemputku. Lalu dengan senyuman khasmu kau menyambut kedatanganku, mengecup keningku, dan memeluk tubuhku.

Rindu kuberikan label atas rasa yang tiba-tiba memenuhi relung hatiku, rindu pada segaris senyum di wajahmu, kecupan bibirmu juga pelukan hangatmu. Entah kenapa, rasa itu kembali merasukiku ketika aku kembali melangkahkan kakiku di kotamu. Kota yang pernah kutinggalkan demi sekeping kenangan tentang aku dan kamu. Sungguh menyesakkan batin ketika mengingat perpisahan kita di kala senja waktu itu.

Kau kemana, Tom. Sudah hampir dua tahun, Aku tak pernah melihatmu lagi. Apakah kau masih mengingatku?Apakah kau masih sering mendatangi tempat kita dulu? menunggui datangnya senja dengan lembayung jingga bersinar di langit.

Dulu kita sering berkejaran di hamparan pasir putih itu, terduduk di bebatuan, bercerita tentang kita sambil menunggui datangnya Senja. Ah, nyamanya ketika aku berada di dekatmu waktu itu Tom. Ya, aku masih bisa mengingat kita dalam memoriku.

Tapi pagi ini tak ada lagi senyuman, kecupan, dan pelukan darimu lagi untukku,  semenjak kau memutuskan untuk meninggalkan aku, demi kita.

Sehari setelah perpisahan kita sore itu, betapa aku berharap kau akan mencariku di sini, di tempat biasanya kita menunggui datangnya senja setiap sore. Kau datang dengan senyum khasmu, membawa serpihan mimpi yang telah kau hancurkan lalu kembali merajutnya bersamaku. Tetapi tidak, ternyata aku salah, kau tak lagi datang untuk mencariku.

Senja lenyap di barat, saat kau menelponku dan berkata “Apa kau baik-baik saja Senja?”
Bagiku itu hanyalah sebuah pertanyaan bodoh, Tom, percuma kau ajukan padaku. Sebenarnya kau pun tahu bagaimana aku tanpamu.
“Aku akan baik-baik saja, Tom…. asal ada kamu di sini,” Ujarku dengan suara parau.
 “Senja, kita kan masih bisa berteman?” ucapmu.
“Tentu saja kita tidak bisa kembali menjadi seorang teman, Tom.” Ujarku tegas.
“Senja, bukankah cinta itu tak harus memiliki?” ujarnmu sungguh membuatku kecewa.
 “Bagiku, cinta itu harus memiliki, tak ingin kehilangan,” Jawabku menggebu.
“Egois memang, tapi bukankah ini manusiawi, Tom?”, lanjutku. Dan kau hanya diam membisu di seberang sana.

Pada akhirnya “kita”  memang harus berakhir, cinta kita harus menyerah pada perbedaan adat dan aturan yang di buat para leluhur. Ah, entahlah aku tak mengerti akan hal itu, yang kutahu perbedaan itu ada agar kita saling mengasihi dan menyayangi. 

Rabu, 30 Mei 2012

Senja



Suatu sore senja datang dengan lembayung jingga yang bersinar indah di langit. Semenjak kepergianmu nyaris setiap sore, terpekur aku sendiri menunggui datangnya senja sembari menguak semua alur cerita cinta kita, AKu melihat bayangan kita dulu. Berlarian di atas hamparan pasir putih, satu tanganmu menggenggam jemariku, dan tertawa pada hal-hal lucu yang kelucuannya hanya bisa dimengerti oleh kita. Di atas bebatuan itu kita terduduk,, menunggui datangnya senja sembari bercerita tentang kita, lalu memandang takjub pada senja di langit yang elok nan indah.

“Senja kali ini lebih indah dari biasanya khan Tom?” Tanyamu waktu itu menyandarkan kepalamu ke pundaku hingga hidungku di penuhi wangi rambutmu yang tertiup angin.
Aku tersnyum dan memeluk Senja dengan penuh rasa cinta. Bagiku Senja selalu sempurna, dia adalah sumber ketenangan bagiku.

Dan di sinilah aku sekarang hanya berusaha untuk menemukan lembaran kenangan bersamamu, hanya mencari kebaikan dalam perpisahan kita.

***
“Tom, andai cinta itu bisa memilih, kupilih kau untuk menemaniku seumur hidup.” Ujarmu dengan senyum getir di wajahmu.

“ Senja, tidak semua yang kau inginkan bisa kau miliki, kau masih ingat cerita tentang cinta laut pada senja?” sahutku sambil menatap rona keemasan di ujung sana.
Kau mengangguk perlahan.
“Laut tak akan pernah bisa bersatu dengan senja. Senja terlalu tinggi untuk bisa di raih. Kalaupun bisa, akan banyak yang terluka karenanya, sehingga laut memilih untuk mencintai senja dengan cukup menjaganya dari jauh.” Paparku.

“Lantas untuk apa cinta di cipta, jika pada akhirnya di paksa untuk di cabut dari hati kita masing-masing?” ujarmu menatapku dan aku memilih untuk diam membisu.
“Arghhh….dunia ini tak adil, Tom. Hanya karena perbedaan, kita harus berpisah.” Ujarmu kesal.

Aku mengerti kemarahanmu, tapi aku bisa berbuat apa untukmu Senja?Cinta kita adalah cinta terlarang, aku dan kamu terikat berlapis-lapis aturan dan perbedaan.

“Mengertilah bahwa perpisahan ini untuk kebaikan kita. Demi kita.” Jawabku berusaha tegar walaupun sebenarnya hatiku rapuh.

“Kau bilang aku adalah sumber ketenanganmu, dan kukatakan engkaulah semangatku, kita berdua saling membutuhkan, Tom.” Kali ini kau memalingkan wajahmu.

“Percayalah, dari dulu hingga sekarang kau masih menjadi sumber ketenangan bagiku,” sahutku.

“Mengapa hanya aku yg berusaha meraihmu, dan hanya aku yang menginnginkan kita, Tom?”
Suara itu dingin, seperti es yang menjalar ke seluruh tubuhku lalu membekukan hatiku. Aku tak sanggup berkata, bibirku terasa kelu, dan aku hanya tergugu memandang wajahmu.

“Semua itu omong kosong Tom, bahwa kamu memilih untuk meninggalkan aku demi kita, karena kamu terlalu mencintaiku untuk melihatku terskiti,” Kau mulai teisak.

“Tidak, kau memang tak menginginkan aku lagi Tom!!”

Senja, seandainya saja kau bisa lebih dalam melihat ke dalam hatiku, kau akan menemukan luka sayat akibat prasangkamu itu di sana. Kau boleh menyebut diriku pecundang, tapi perlu kau tahu aku melakukannya demi kita. Kita adalah laut dan senja yang saling melengkapi namun tak bisa bersatu.

Jumat, 25 Mei 2012

Changing



Lama tidak menulis ternyata menyisakan kerinduan yang begitu dalam (hehe). Saya hanya punya sedikit waktu luang sekarang. Akhir-akhir ini saya sedang di landa stress berat, urusan pekerjaan dan persiapan pernikahan telah banyak menyedot daya dan pikiran saya saat ini, akibatnya sepulang ngantor badan saya kecapekan dan malamnya saya jadi ingin langsung tidur. Jangankan membaca, menulispun butuh usaha yang ekstra keras.

Sekali menulis saya malah ingin merubah judul dan tampilan blog saya menjadi sesuatu yang bertema garden. Kelihatanya sangat menarik bukan?. Berharap dengan adanya perubahan tersebut dapat membarikan aura positif kepada siapapun yang membaca (halah…ngomong apaan sih saya).

 Ya, perubahan terkadang di perlukan dalam kehidupan kita. Seperti sekarang, saya sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi pernikahan saya empat bulan lagi. Dimana semua akan berubah, dari status single menjadi status married, masalah yang di hadapi juga tak sesimple ketika masih sendiri, dan sudah pasti lingkungan kita menjadi berubah.

Sehingga saya merasa perlu untuk melakukan perubahan besar di dalam hidup saya, merubah kebiasaan-kebiasaan saya, cara berfikir, hingga sikap dan perilaku saya selama ini. Dan itu semua tidak mudah untuk di lakukan, butuh waktu dan proses yang tidak sebentar, butuh niat yang sungguh-sungguh serta kemauan keras dalam melakukan perubahan tersebut.

Salam hangat dan selamat merubah !!!

-Strawberry-






Selasa, 22 Mei 2012

Tentang Mimpi


Ingin menulis (lagi) tentang mimpi saya setelah sebelumnya pernah menulis tentang mimpi juga di sini
Menjelang senja sambil menunggu adzan maghrib, saya terlibat pembicaraan dengan salah satu sahabat pena saya melalui skype. Dia asli Indonesia dan sekarang bekerja di jerman, dialah yang selalu mengajarkan kepadaku untuk selalu memiliki mimpi dan mewujudkannya. Aku sangat mengaguminya karena mimpi dan keinginannya yang tinggi tanpa harus takut gagal dan kecewa.
"Seseorang sepertimu mempunyai mimpi?" kata sahabatku dari seberang sana dengan nada sedikit meremehkan.
"Tentu dong, aku punya mimpi, setiap orang punya mimpi bukan cuma kau saja yang boleh mempunyai mimpi." Jawabku.  
Ku lihat dari layar laptopku kau mengernyit tanda kau tak mempercayai perkataanku.
"Kau boleh tak percaya padaku, tapi aku baru saja membawa pulang mimpi-mimpiku. Mimpi yang diam-diam ku rajut di malam pergantian tahun 2012 lalu," jawabku bangga.
"Oke-oke.....aku percaya," Ujarmu sambil tersenyum kecut pertanda kau masih belum 100 persen mempercayai ceritaku ini, "Kalo boleh tahu, apa mimpimu?".
"Looks....aku habis dari Bali, dapat bonus pula bisa menyembuhkan phobiaku terhadap air laut", ucapku sembari menunjukkan fotoku yang sedang diving bersama temanku.
Kau tertawa terbahak sambil berkata "Sederhana sekali mimpimu, itu kecil."
"Kau boleh memanggilku kecil geg, tapi kau tak boleh memandang kecil mimpiku!!!" ujarku kesal, dia sahabatku yang paling sering buat aku kesal karena ucapannya yang ceplas-ceplos.
"Kecil....jangan marah dong!!maaf kalau aku berkata demikian" ucapmu sembari tersenyum manis padaku dan seketika rasa kesal itu lenyap dan melumer.
"Lantas?apa kau ikut senang karena mimpiku itu terwujud?"
"Tentu dong sebagai sahabatmu aku ikut senang, tapi cil, kamu masih punya mimpi yang besar loh yang harus terus kamu kejar!!!," Ujarnya lagi.
"Mimpi besar??"
"What....jangan bilang ya kalau kamu sudah lupa sama mimpi besar kamu!!!"
"Oh....itu...ingat sih, tapi itu terlalu mustahil untuk bisa aku raih geg!!”
"Kau ini selalu pesimis!! dulu kau pernah bilang khan, bahwa kau tak akan bisa menyembuhkan phobia kamu terhadap air laut, buktinya sekarang bisa" Ucapnya.
"Iya Sich.....tapi...."
"Tapi kenapa?"
"Aku harus berfikir realistis, aku memiliki mimpi lain yang sesuai dengan kemampuanku geg ," Ujarku girang dan meneruskannya dengan “bukanya aku pesimis dengan mimpiku untuk menjadi penulis, tapi mimpiku yang sesungguhnya sudah ada di depan mata, tinggal aku kelola saja.”
"Oke kalau gitu, lalu apa mimpi kamu sekarang?"
"Aku ingin menjadi pengusaha saja, dan sekarang aku sudah dekat dengan mimpi itu."
"Oh ya?" ujarmu antusias.
"Ya....aku punya kandang ayam dan lima ratus ekor ayam untuk bisa aku kembang biak kan!!"
"What!!!Really cil" teriakmu.
"Iya...aku merintis usaha ini perlahan, selangkah demi selangkah bersama calon suamiku, malah belakangan aku punya ide untuk mengolah ayam menjadi makanan yang bernilai jual tinggi," jelasku.
"Bagus cil, nggak ada mimpi yang sia-sia cil, percaya sama aku!!!" ucapnya.
Aku mengangguk, "Ya geg, kamu benar"
"Kau tahu, dulu mereka yang ada di sekitarku selalu bilang "jangan bermimpi terlalu tinggi." dan lihat aku sekarang ada di Jerman.......mimpi yang mereka bilang percuma terwujud juga akhirnya."
Aku dan sahabtku tertawa bersama, merayakan tentang sebuah mimpi kita masing-masing.




Senin, 23 April 2012

I’m Just Your Plan B



Saat perjalanan menuju rumah, suatu pesan masuk di HP ku “Aku sudah ada di rumahmu, cepat pulang, aku tunggu kamu.” Membaca pesan yang di kirimkan oleh wanitaku tersebut sempat membuatku sesak nafas untuk beberapa detik. Ingin menghindar, namun taksi yang ku tumpangi sudah terlanjur berbelok memasuki pekarangan rumahku. Dan seperti biasanya, kamu duduk di bangku kayu di bawah pohon mangga sambil memainkan HP mu.

Setelah membayar taksi, akupun turun.
“Hai…” sapamu ketika melihatku turun dari taksi.
“Hai juga, ada apa kau kemari?” Jawabku sembari mendaratkan tubuhku di bangku kayu tempatmu terduduk.
“Aku ingin berpamitan,” Ujarmu.
“Kau akan pergi lagi?” Tanyaku sembari melepaskan sepatuku.
“Ya, tapi hanya untuk sementara, bila urusanku di Jakarta sudah selesai aku pasti akan kembali.”
“Pergilah…aku tak akan menunggumu lagi!” Ujarku lalu menatap matamu lebih dalam.
“Aku janji, kali ini aku pergi tak akan lama.” Ujarmu menatap mataku berusaha untuk meyakinkan aku.
“Terserah kamu, aku tidak akan pernah memaksamu lagi untuk berada di sini bersamaku.”
“Kau ini kenapa?apa kau tak ingin aku kembali?” Ujar wanitaku memberikan guncangan kecil di bahu kiriku.
“Memangnya aku berkata begitu?tidak kan?” Jawabku.
“Katakan padaku, sebenarnaya ada apa denganmu sayang?” Ujar wanitaku dengan suara manjanya.
“Kau pikir kau ini siapa, kau seenaknya saja datang, mengambil hatiku, mempermainkan, lalu pergi sesuka hatimu. Kau datang lagi, mengambil hatiku, mempermainkan , lalu pergi semaumu. Aku lelah dengan semua ini, pergilah aku tidak akan menahanmu terlalu lama di sini.”
“Maafkan aku sayang, aku tidak bermaksud seperti itu!” Rengekmu.
“Aku tahu. Tapi nyatanya kau lakukan itu semua padaku kan?Pergilah, bukan kah itu mau mu?”
“Tidak sayang, sebenarnya aku masih ingin bersamamu di sini.”
Arghhhh….tadi bilang mau pergi, sekarang bilang masih ingin bersamaku, bisa jadi sedetik lagi mungkin kamu akan berkata lain. Jika ada orang plin plan di dunia ini itu pasti kamu.
“Ijinkan aku untuk kembali lagi nanti ya?”
“Maaf, aku tidak bisa, aku lelah bermain-main denganmu.”
“Please…aku mohon, tunggu aku sayang.” lagi-lagi kau menggelayutiku.
“Berhentilah merengek!!! Sungguh, rengekkanmu itu begitu ampuh mencairkan hatiku yang sudah membeku.” ujarku dalam hati.
Lalu aku teringat pada nasehat seorang kawan kemarin saat di kantor.
“Kamu itu hanya plan B saja buat dia, dia sudah punya plan A, dan selama plan A belum di Approve maka dia akan terus menarik ulur kamu. Begitu plan A sudah Approve maka kamu akan segera di singkirkan begitu saja.” begitu kata sahabatku.
“Aku benar-benar tidak bisa, maafkan aku, sekarang pergilah!!!” tandasku mengakhiri pembicaraan sore itu.