Tampilkan postingan dengan label Inspirasi Strawberry. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi Strawberry. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Juni 2012

The Power Of Giving



Jadi ceritanya semalam aku habis dapat telpon dari seorang perempuan bernama Erna. Nah, si Erna ini mengaku adalah orang yang pernah aku tolong sekitar lima bulan yang lalu. Dia berniat untuk bertemu denganku, ia ingin mengembalikan uang yang pernah  kupinjamkan padanya, sebenarnya sudah kuberikan sih, tapi dia masih ngotot mau balikin. Ya, masih jelas teringat olehku, saat itu aku sedang menunggu KA Gaya Baru di Stasiun Wonokromo menuju kota kelahiran saya, Madiun. Siang itu udara Surabaya sangat panas, calon penumpang tumpah ruah di dalam Stasiun yang kecil, wajar jika weekend begini banyak yang ingin bepergian ke luar kota dengan menggunakan transportasi darat, kereta api. 

Saya duduk manis di bangku kayu Stasiun sambil mendengarkan suara emas si pengamen jalanan yang belakangan baru ku ketahui dia adalah seorang gadis buta. Tiba-tiba seorang anak perempuan seumuran adekku datang menghampiriku, peluhnya berjatuhan, wajahnya diliputi kecemasan dan kebingungan. Setelah kutanya, ternyata dia habis kecopetan, Uang, tiket dan HP nya  raib di gondol orang yang tidak bertanggung jawab. Memang sih, masalah keamanan stasiun wonokromo masih menjadi PR pemerintahan Surabaya mengingat sering terjadinya tindakan criminal. Perempuan itu dari Banyuwangi, baru lulus SMU, dan berencana untuk ikut bekerja dengan kakanya di Jogja. Ah, aku merasa kasihan dengan anak itu, Ia sendirian dan sedang terkena musibah pula.

Dan kuputuskan untuk membantu semampu aku. Saat itu aku Cuma punya selembar uang lima puluh ribuan, selembar uang dua puluh ribuan plus uang receh kalau ada pengamen di dalam Kereta. Aku memang sengaja membawa uang seperlunya ketika sedang bepergian jauh menggunakan transportasi umum seperti Kereta Api maupun Bus. Semua yang kupunya kuberikan pada perempuan itu kecuali uang receh, aku rasa dengan uang segitu masih cukup untuk membeli tiket ke Jogja dan biaya menelpon kakaknya setelah sampai di Jogja nanti, syukur-syukur kalau masih sisa bisa dipergunakan untuk membeli makanan atau minuman selama di perjalanan.

Awalnya perempuan itu menolak bantuanku, tapi setalah ku paksa akhirnya dia mau menerima dengan syarat aku memberikan nomor telponku padanya, ia berjanji akan menghubungiku dan mengembalikan uang yang kuberikan padanya. Sesaat kemudian, aku mendengar petugas stasiun  menginformasikan kedatangan KA Gaya Baru di Jalur No 1 dan disanalah kami berpisah tanpa kutahu namanya juga tanpa dia tahu namaku. Aku bergeser ke jalur no 1 setelah memastikan barang bawaanku aman dan tidak terkena incaran para pencopet, biasanya saat-saat seperti ini para pencopet beraksi. 

Setelah berkejaran dengan penumpang lainya, akhirnya aku menempati tempat duduk yang strategis (Baca: Dekat Jendela dan terbebas dari perokok). Saat Kereta melewati Stasiun Krian, kenyamananku mulai terusik akibat tingkah polah cacing-cacing di dalam perutku yang meronta minta diisi dengan makanan. Aku kelaparan, uangku sudah kugunakan untuk membantu perempuan yang sedang kesusahan tadi, yang tersisa hanya uang receh, mana cukup untuk menukar sepiring nasi goreng di Kereta Makan?

Argh…aku hanya berdoa semoga maag ku tidak kambuh akibat telat makan. Amien.
Tetiba, seorang petugas KA menyapaku. Aku terkejut, kok dia bisa mengenaliku, oh ternyata beliau adalah teman kantor papaku di PT Kereta Api. Aku sudah lupa dengan beliau, tapi beliau masih mengingatku, dulu waktu aku kecil aku memang sering sih di ajak Papaku ke kantor, mungkin dari situlah teman Papaku mengenal aku. Allah SWT itu Maha Penyayang dan Pemberi Rizki kepada umatnya, melalui tangan teman papaku itu, aku diberikan sepiring nasi goreng dengan segelas es jeruk gratis. Allahamdullilah, Terima kasih Ya Allah.

Seminggu sudah berlalu semenjak kejadian itu, aku senang bisa membantu orang lain. Aku sama sekali tidak pernah mengharapkan imbalan sedikitun atas bantuanku tersebut terhadap orang lain. Tapi sekali lagi bahwa Allah SWT itu Maha Pemberi Rizki kepada setiap umatnya. Tanpa kuduga sebelumnya, sore hari sepulang kerja, aku mendapatkan telpon dari salah satu temanku yang memberitahukan bahwa dia sudah mentransfer uang bagianku hasil dari bisnis kecil-kecilan waktu aku masih di Jakarta. Amazing sekali, pikirku, aku iseng-iseng ikut modalin temen jualan baju, ternyata hasilnya lumayan sekali, sudah balik modal dengan keuntungan hampir 100 persen dari modal yang aku kasih ke dia. Syukur Allhamdullilah, Tuhan itu memang baik sekali. Terima Kasih Ya, Allah.

Ya, aku yakin dan percaya sekali bahwa memberi berarti juga menerima. Ketika kita memberi maka Allah SWT akan melipatgandakan apa yang kita beri. Jadi, inilah The Power Of Giving. Sungguh luar biasa bukan?
Memberi tidak hanya berwujud uang atau materi bisa berupa pengalaman, Ilmu, senyum, atau apapun yang bermanfaat bagi orang lain. Sekali lagi, kukatakan bahwa memberi itu sama dengan menerima.
Aku tidak bermaksud riya, aku hanya ingin membagi dan memberi kepada kalian semua tentang The Power Of Giving. Teman-teman punya pengalaman yang sama denganku? Bisa berbagi denganku?
Allhamdullilah, sesuatu banget ya…..

Have Nice Weekend.

Jumat, 16 Maret 2012

Catatan Kecil Dalam Menjalin Hubungan


Selamat Pagi, Ijinkan saya untuk membagi pengalaman saya tentang bagaimana menjalin hubungan sebagai berikut:


Selalu berpikiran positif.
Seseorang yang selalu berfikiran positif akan terus menghasilkan buah pikir yang positif pula, sikap dan perilakunya pun pasti positif. Dengan begitu ia membuat lingkungan sekitarnya bergerak secara positif sehingga ia pun cenderung mendapatkan hasil yang positif pada akhirnya. Sebaliknya jika ia lebih banyak berfikiran negative maka sikap dan perilakunya pun negative. Jika hal ini dibiarkan secara terus menerus dan saat semuanya berada pada puncaknya maka anda yang akan menderita sendiri dan hubungan positive yang telah tercipta akan sirna.

Lupakan Masa Lalu.
Jadikan masa lalumu yang buruk maupun menyakitkan  sebagai pengalaman yang berharga dalam hidupmu. Belajarlah dari kesalahan-kesalahanmu di masa lalu untuk memperbaiki kehidupan yang jauh lebih baik dari hari kemarin. Tersenyumlah mengenang masa lalumu itu meskipun berat terasa, karena hidup bukan bagaimana kamu yang dulu tetapi bagaimana kamu hari ini dan kedepannya. Keluar dari sana buang jauh-jauh kunci masa lalumu. Buka hatimu dan lupakan masa lalumu temukan sahabat maupun kekasih yang mencintai dirimu yang sekarang secara tulus. 

Jangan Batasi Diri Anda.
Ingat, kita bukanlah Tuhan yang tahu segalanya, setiap orang itu memiliki sisi kehidupan yang tak pernah kita ketahui sebelumnya. Jangan batasi diri anda terhadap mereka yang dianggap bukan menjadi pilihan atau tipemu. Kenali mereka dan nikmatilah kebersamaan anda dengan mereka. Terkadang sesuatu yang di anggap kurang pantas untuk anda adalah pilihan terbaik –Nya untuk anda.

Terimalah Ketidaksempurnaan Mereka
Biarkan mereka menjadi dirinya sendiri. Anda tidak perlu menjadikan mereka seperti yang kamu mau. Tak ada seorangpun yang sempurna begitu juga dengan diri kita sendiri. Terkadang Segala sesuatu yang sempurna itu sederhana saja.

Jujur
Tidak ada seorangpun yang suka di bohongi tidak terkecuali diri sendiri. Kejujuran memang sangat penting dalam menjalin suatu hubungan. Akui jika memang melakukan kesalahan, perbaiki kesalahan, dan jangan pernah mengulanginya.

Well, cukup itu saja dulu yang dapat saya share kepada teman-teman di manapun anda berada. Saya memang bukan seseorang yang ahli dalam Relationship, tulisan ini hanya berdasarkan pengalaman dan pendapat teman-teman saya saja. Semoga bermanfaat.
Selamat bermalam minggu.

Kamis, 15 Maret 2012

Semangat Meraih Mimpi



Siapa saja tentu boleh memiliki mimpi. Dan lebih bahagia lagi ketika mimpi itu dapat tercapai walau tidak sesempurna yang diimpikan. Ketika remaja, saya pernah mempunyai mimpi, dan mimpi itu pernah saya tuliskan di sebuah buku agenda, lengkap dengan visualisasi, dan strategi untuk dapat mencapai mimpi saya.

Di buku agenda itu, saya menuliskan mimpi pertama saya yaitu ingin sekali menerbitkan tulisan saya. Bak punuk merindukan bulan, terlalu sulit rasanya untuk dapat menggapai mimpi itu. Bagaimana bisa terwujud jika saya tidak pernah mempunyai keberanian membiarkan tulisan saya di baca oleh banyak orang. Bagaimana bisa jika saya tidak pernah mencoba untuk menawarkan tulisan saya ke penerbit/majalah di masa itu. Mustahil rasanya. Yah, semua itu hanyalah sebuah mimpi di masa itu saja. Pada akhirnya semua akan berubah seiring dengan berjalanya waktu. Saya mulai menyadari bahwa real self dan ideal self tidak selaras.

Walaupun, di masa itu. Saya pernah bahagia karena saya dekat dengan mimpi saya. Mungkin bagi kalian semua itu tidak ada artinya, tapi bagi saya itu amat berharga. Saya menyabet Juara 1 Lomba Menulis tentang "Maulid Nabi" di Sekolah. Ah, saya jadi bernostalgia atas kebahagian itu.
Saya pernah berada pada titik jenuh, merasa jengah dengan karya-karya sendiri. Saya merasa bahwa semua yang saya lakukan hanyalah sebuah kesia-siaan saja. Menulis sama dengan buang-buang waktu saja. Sebuah hobi yang tidak ada manfaatnya. Akhirnya, saya berhenti menulis dan perlahan memudarkan mimpi saya itu semudah menghilangkan buku agenda saya tempat untuk meletakkan semua mimpi saya.

Tepatnya kapan saya tidak ingat saya kembali menulis. Mungkin semenjak saya memasuki suatu fase dalam kehidupan saya, merubah kehidupan saya secara total. Di saat saya kehilangan karier, sahabat, juga kekasih sekaligus. Ya, di kala siapaun tak dapat ku percayai untuk menyimpan perasaan sedih, kehilangan, dan juga kegagalan saya, saya memilih untuk menulis.

Semangat saya membuncah setelah bergabung dengan teman-teman di ngerumpi. Saya merasa hasrat untuk menulis tak sanggup lagi untuk di bendung, saya kembali merasakan dekat dengan mimpi saya.
Awalnya, Iya....saya grogi dan kurang percaya diri dengan tulisan yang akan saya posting. Tapi untungnya warga ngerumpi sangat welcome dengan warga baru seperti saya. Apresiasi yang tinggi terhadap tulisan-tulisan saya secara perlahan menepis rasa grogi dan kurang percaya diri tersebut. Kehebatan mereka dalam menulis membuat saya semakin giat belajar menulis.

Tell Your Wishes artikel yang di tulis oleh mbak Ladypiano cukup menegur saya. Membangkitkan kembali mimpi-mimpi itu, juga semangat saya untuk terus menulis. Sahabatku, mbak ladypiano terima kasih telah memberikan banyak masukan dan inspirasi kepada saya, juga kepada seluruh warga Ngerumpi yang selalu hangat menyapa saya. Oh ya, satu mimpi sederhana saya barusan terwujud lho....hehe. Mimpi sederhana menjadikan tulisan saya bertengger di kolom Pilihan Moderator Ngerumpi. Allhamdullilah, artikel Gosip menjadi perhatian sang moderator. Amien.
Baru saya sadari bahwa kini menulis sudah menjadi bagian di hidup saya. Menulis adalah mimpi saya dari dulu hingga sekarang. Bolehlah Agenda itu hilang, namun mimpi itu masih lekat di hati saya. Walaupun saya tak pernah tahu kapan mimpi itu akan terwujud. Tapi, bersungguh-sungguhlah dalam meraih mimpi, mereka yang bisa meraih mimpinya adalah mereka yang mempunyai semangat membara untuk meraihnya.
Sekelumit kisah tentang semangat dan mimpi seorang pemimpi seperti saya. Apa mimpimu kawan, jangan segan untuk menuliskannya di sini, karena hidup berawal dari mimpi seperti yang di katakan Bondan & Fade @ Black di lagunya.




Rabu, 14 Maret 2012

GOSIP



Gosip selalu identik dengan wanita atau ibu-ibu.  Bergosip sudah menjadi bagian dari Lifestyle wanita di jaman sekarang ini. Dulu, saya pernah menjadi bagian dari jajaran penggosip, pernah pula jadi korban penggosip, dan sekarang berusaha mengendalikan diri dari untuk menjauhi kebiasaan bergosip. 

Sebelum membahas terlalu jauh tentang Gosip, saya mencoba mendefiniskan kata gossip itu sendiri dengan bantuan kamus bahasa Indonesia. Gosip adalah cerita negative tentang seseorang, berarti kalau bergosip itu adalah menceritakan hal negative tentang seseorang.

Jika di lihat dari definisi tersebut sudah jelas bahwa bergosip itu bisa di kategorikan sebagai perbuatan yang tidak baik. Menikmati kesenangan dengan meceritakan keburukan atau aib orang lain. Terkadang gossip dapat menjurus ke perbuatan fitnah dengan di taburi sedikit bumbu. Bersyukurlah jika anda memang bukan termasuk jajaran penggosip maupun korban dari penggosip itu kawan. 

Sesungguhnya bergosip itu tak memiliki manfaat bagi kehidupan kita, justru akan banyak dampak yang ditimbulkan dari kegiatan bergosip itu sendiri. Bukankah setiap perkataan yang keluar dari mulut kita merupakan cerminan hati kita yang sesungguhnya?
Kita tidak akan tampak lebih Cerdas dan Gaul dengan bergosip, saya yakin banyak cara yang dapat kita lakukan untuk menjadi orang yang asyik untuk di ajak gaul tanpa bergosip. Gunakan potensi yang kita punya, jangan dengan cara-cara kotor seperti bergosip. 

Seringkali saat bergosip tentang teman maupun rekan kerja kita, kita merasa pada posisi dimana kita lebih tahu segalanya dari pada orang lain. Padahal ya, setiap orang itu memiliki sisi kehidupan yang tak pernah kita ketahui sebelumnya. Ingat!!! Kita bukanlah Tuhan yang tahu segalanya. Misal ketika ada seorang perempuan di kantor saya di gosipkan sebagai perempuan yang kasar dan tak pernah beramah tamah dengan orang disekelilinya, padahal tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya dia sedang stres karena mempunyai masalah dengan keluarganya. 

Instropeksi diri sendiri sebelum sibuk membicarakan kesalahan orang lain. Bercerminlah tentang keselahan-kesalahan kita di masa lalu. Ingat!!! bahwa setiap manusia pernah berbuat kesalahan seperti kita yang pernah melakukan kesalahan-kesalahan di masa lalu.

Lalu bagaimana jika kita jadi korban penggosip? (seperti yang saat ini saya alami)

Diam. Ya, Diam bukan berarti membenarkan gosip itu kawan. Menghadapi gossip tidak perlu dengan meluapkan kemarahan. Ya saya rasa itu adalah cara ampuh yang akan saya lakukan ketika didera Gosip tidak enak. Selama saya benar, saya tidak akan pernah takut untuk menghadapi mereka para penggosip. Saya percaya, suatu saat kebenaran akan membungkam sendiri mulut-mulut mereka.
Monggo di komentari berbagi pengalaman untuk korban gosip yang sudah memiliki jam terbang tinggi. He he he….

Yang paling asyik itu ngomongin kejelekan orang lain. Yang paling mudah itu menyalahkan orang lain. Yang paling menyenangkan adalah menikmati penderitaan orang lain. : Beginilah jika dunia terbalik dan manusia mulai kehilangan sifat dasar kemanusiaan. Lebih senang melihat orang lain susah dan menjadi susah melihat orang lain senang. Jika begitu masihkah layak disebut manusia jika tak lagi punya hati nurani dan tak ada semangat hidup kebersamaan?
By Dinda Natasya


Kamis, 01 Maret 2012

MENJADI DEWASA




“Usia Seseorang nggak menjamin kedewasaan orang tersebut”
Begitu kata salah satu rekan kerja saya di sela-sela acara makan malam di Mess waktu itu. Awalnya kami sedang membahas tentang seorang teman perempuan, sebut saja namanya Siska, 34 tahun, masih single. High Quality Jomblo di kantor saya. Cuman yang namanya manusia itu tidak luput dari ketideksempurnaan, Doi tergolong wanita “ANEH” menurut saya. Sekalipun saya nggak pernah ngelihat dia SENYUM apalagi RAMAH sama orang, Kalau ada masalah pekerjaan pasti semua di bawa-bawa, sampai tukang siomay depan kantor aja juga ikut kena MARAH gara-gara masalah pekerjaan atau masalah pribadi dia. Kalau sedang ada masalah sama sesame rekan kerjanya , tak jarang ia selalu melibatkan HRD untuk menyelesaikan masalah yg tergolong sepele menurut kami teman-temannya. Padahal sebenarnya bisa kok diselesaikan secara DEWASA.
Tak jarang orang bilang seperti ini  “Udah berumur tapi masih kayak anak kecil ajah”.
Tak dapat di pungkiri bahwa kenyataan seperti itu memang ada di lingkungan sekitar kita.  Tingkat kedewasaan yang tak sebanding dengan usianya. Salah satu contoh saya ambil dari mantan pacar saya. Semenjak ayahnya mengalami kecelakaan dan tidak bisa kembali normal lagi, ia menggantikan semua tugas ayahnya. Ia belajar dari pengalaman hidupnya. Al hasil meskipun dia lebih muda satu tahun dari saya, pemikirannya lebih dewasa bdibanding dengan saya waktu itu.
Kalau menurut saya “Seharunya” USIA dan KEDEWASAAN itu berjalan beriringan. Jangan sampai usia udah tidak muda lagi tapi kelakuan masih kayak anak ABG, makanya ada istilah yang namanya ABG TUA (hehe…ngasal). Atau sebaliknya anak SD dengan penampilannya yang menor mirip ibu-ibu yang mau pergi kondangan. Biasanya penampilan juga mempengaruhi cara berfikir anak sehingga tumbuhlah anak tersebut dewasa sebelum pada waktunya. Terlalu cepat dewasa saya rasa juga kurang baik.
Menjadi dewasa itu adalah pilihan, tak bisa di paksakan. Belajar dari pengalaman adalah cara untuk menambah kedewasaan bagi saya. Selain itu juga belajar dari orang-orang yang kita anggap lebih DEWASA  seperti contohnya belajar dari mama.
Menurut rumpiers untuk menjadi dewasa itu gimana?

Minggu, 26 Februari 2012

Jangan Bersedih-La Tahzan



Sore itu,
Parjo seorang buruh bangunan tengah sibuk memasukkan barang-barangnya kedalam kardus indomie. Esok, dia akan kembali ke kampong halamannya di pemalang – jawa tengah. Ia merasa tabungannya sudah cukup untuk modal usaha di kampong halamannya. Ia tak ingin selamanya terpisah jauh dengan Istri dan anaknya.
Pak darto mandor yang mempekerjakan parjo muncul dari balik pintu kamar parjo  yang sangat sederhana, hanya beralaskan tikar dan lemari plastic di ujung ruangannya.
“jo…kamu yakin mau pulang”,ucap pak darto.
“injihh pak…saya sudah yakin mau pulang”,ujarnya. Saya kangen sama istri dan anak saya pak”,lanjut pria paruh baya itu dengan tatapan mata penuh kerinduan.
Y owes yen ngunu, ini tiket kapalmu dan gaji bulan ini sama sekalian bonus dari ku karena kamu sudah bekerja dengan sangat baik disini jo”,ucap pak darta memberikan amplop coklat berisikan uang dan satu lagi amplop putih berisi tiket kapal pulang ke jawa.
“alhamdullilah….matur nuwun nggih pak darto”,ujar parjo menciumi amplop itu.
Bagi Parjo uang itu sangat berarti baginya. Ia ingin sekali membahagiakan istri dan anaknya. Untuk itu ia rela harus merantau ke tanah borne, jauh  dari orang-orang yang ia sayangi sebagai buruh bangunan. Membanting tulang, bertemankan terik matahari, dan tak jarang harus mempertaruhkan nyawanya untuk  bekerja digedung-gedung tinggi .
Tiga hari kemudian
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh selama 3 hari 3 malam dengan menggunakan kapal akhirnya parjo sampai juga di kampong halamannya pemalang. Ia sudah tidak sabar ingin segera memeluk istri dan anaknya untuk melepas rindu yang bertahun-tahun tlah ia pendam. Rindunya membuncah terutama kepada buah hatinya, Ardian. “Dulu waktu di tinggal merantau, Ardian masih berumur setengah tahun, pasti sekarang sudah besar dan tumbuh jadi anak yang pintar”,begitu kata parjo dalam hati.
Parjo sudah berada di halaman depan rumah nya. Matanya berbinar dan senyumnya mengembang ketika mendapati seoarang anak laki-laki berumur sekitar 4 tahun sedang bermain-main di teras rumahnya.
“itu pasti ardian anakku”,ucap parjo dalam hati lalu melangkahkan kakinya menuju teras.
“Nak….ini ayah”,ujar parjo sembari memeluk anaknya. Air matanya menetes ketika si anak juga memeluk erat dirinya.
“mana ibu nak, ayok kita masuk, ayah belikan mainan buat kamu”,ujar parjo menggendong buah hatinya.
bu…ibu….ayah pulang bu, buka pintunya”,teriak parjo menggedor-gedor pintu.
Seorang perempuan paruh baya keluar dari rumah parjo. Tapi anehnya perempuan itu bukan sukemi istrinya melainkan Bu Titik tetangganya.
“ada apa ini”,pikir parjo.
“Pak Parjo….”,ucap perempuan itu kaget melihat kedatangan parjo.
“Iya bu, ini saya parjo”,ucap parjo menyalami perempuan tetangganya itu. “bu….sukemi kemana?”,tanya parjo kebingungan.
Perempuan itu terdiam, seperti ada yang di tutup-tutupin dari ku. Ada apa dengan sukemi?apakah dia meninggal?”,pikir parjo.
Ia baru ingat, dua bulan terakhir ini, sukemi memang sedikit berbeda dari biasanya. Ia jarang sekali menelpon atau membalas surat dariku. Apakah ini semua ada hubungannya?
“bu…ada apa dengan sukemi istri saya?”,tanya parjo. “katakana pada saya bu”,parjo memohon. Guratan wajahnya terlihat kekhawatiran terhadap istrinya.
“Baiklah pak, saya akan ceritakan semua pada bapak”,ujar perempuan itu. Tapi saya minta bapak yang sabar ya”,
Parjo semakin penasaran dengan apa yang di bicarakan bu titik pada dirinya “iya bu iay, katakana dimana sukemi”,ucap parjo.
“ayah….ibu pergi dari rumah”,ucap ardian yang membuatnya terkejut.
“apah nak, ibu pergi kemana”,ucap parjo dengan nada sedikit tinggi.
Pak, sekitar dua bulan yang lalu, sukemi pamit akan pergi untuk menjadi pembantu rumah tangga di kota, ia hanya menitipkan ardian pada saya”,ucap Bu titik.
buat apa kerja, apakah kurang uang yang selama ini saya kirimkan untuk dia dan anak saya?”,ucap parjo tak habis pikir.
“saya nggak tahu pak, cuman dia pernah bilang ke saya bahwa selama ini bapak nggak pernah memberikan dia nafkah”,ucapan bu titik.
“astagfirullah bu….itu tidak benar. Saya nggak pernah telat kirim uang”,ujar parjo.
Bu tuti menunduk, ia tak sanggup untuk berkata-kata lagi.
“lalu, kemana dia sekarang bu”,ujar parjo.
“Saya nggak tahu pak dimana dia sekarang, sebulan yang lalu saya ketemu dia. Dia cuman bilang ke saya bahwa dia sudah tidak sanggup lagi menghidupi ardian , ia bilang ingin menikah dengan pria yang bisa memberikan dia nafkah lahir dan batin. Dan sebagai gantinya, sukemi memberikan rumah ini beserta sertifikatnya untuk biaya Ardian sampai nanti”,ujarnya dengan suara sedikit tercekat. Takut kalau-kalau parjo tidak bisa menerima kenyataan hidup yang pahit ini.
“astagfirulloh, Gusti Allah mboten Sare”,ucapnya sembari mengelus dada. DIA tahu bagaimana saya berjuang diantara hidup dan mati, membanting tulang untuk membiayai keluarga saya bu”,lanjut parjo sembari meneteskan air matanya.
 “Sabar ya pak. Saya akan kembalikan rumah bapak, saya ikhlas pak dititipi ardian, ardian sudah saya anggap sebagai anak saya sendiri”,ujar bu titik . Bapak khan tahu kalo saya tidak bisa punya anak, jadi bagi saya ardian adalah karunia Allah SWT yang tak pernah ternilai harganya”,lanjutnya yang di susul dengan isakan tangis.
Sungguh, aku tak pernah mengerti setan apa yang merasuki istriku sukemi. Dia adalah perempuan yang aku nikahi lima tahun lalu. Ketika itu aku merasa iba terhadap dirinya yang hidup sebatang kara di dunia ini. Karena aku mencintainya dan niatku tulus ingin membantu dirinya, aku berjanji di hadapan Allah SWT untuk senantiasa menjaga dia, meskipun waktu itu aku hanyalah seorang buruh tani yang penghasilannya tak seberapa.
Di rumah peninggalan orang tua ku inilah aku menjalani hari-hariku bersama sukemi istriku. Hingga setahun kemudian Allah SWT mengkaruniai kami seorang anak laki-laki. Kuberi nama dia “Ardian”, aku berharap kelak dia akan menjadi anak yang sholeh dan pintar, tidak seperti aku ayahnya yang cuman bisa jadi buruh.
Semakin hari, kehidupan kami semakin sulit saja. Kemiskinan menggerogoti keluarga kami, padahal waktu itu ardian masih bayi,  ia membutuhkan susu dan makanan bergizi untuk menunjang pertumbuhannya. Aku sebagai seorang ayah bertanggung jawab untuk menafkahi anak dan istriku. AKu berusaha dan terus berusaha untuk mencukupi kebutuhan mereka.
Akhirnya kuputuskan untuk pergi merantau di tanah borneo sebagai buruh bangunan atas ajakan Pak Darto temanku. Aku meminta ijin pada sukemi istriku untuk mencari nafkah di negeri orang, aku berjanji padanya ini tak akan lama. Sukemi pun mendukungku. Sedikit demi sedikit aku kumpulkan uang hasil jerih payahku lalu ku kirimkan kepada sukemi. Sebagian untuk biaya hidup sehari-hari dan sebagian untuk di tabung.
“buk…tabungannya sudah terkumpul banyak ya”,tanyaku melalui telpon, sehabis mengirimkan uang ke rekening tabungan sukemi.
“alhamdullilah pak, uangnya sudah banyak”,jawab sukemi waktu itu.
“syukurlah bu, bisa kita gunakan untuk masa depan anak kita”,jawabku.
iya pak, bapak kapan pulang?”,tanya sukemi.
“sabar buy a?bapak akan segera pulang kalau uang tabungan kita sudah terkumpul banyak”,ujarku menahan tangis.
“Kalau sudah banyak mau di pakai buat apa pak”, ucap sukemi dengan suaranya yang lembut.
“ya, nanti kita pakai buat usaha aja bu, usaha warung makan atau toko gitu bu agar kita bisa berkumpul lagi”,jawab bapak dengan penuh semangat.
“baiklah pak, kami akan menunggumu disini”,ucap sukemi sekaligus mengakhiri pembicaraan kami karena pulsa yang saya beli untuk menelponnya sudah habis.


Kini harapan itu tlah sirna, hatiku hancur berkeping-keping. Sakit dan Sakit yang aku rasakan saat ini. Semenjak itu aku seperti kehilangan semangat untuk hidup, yang ku lakukan hanya berdiam diri saja di rumah itu. Aku semakin terhanyut dalam kesedihan ini, sehingga tak banyak waktuku terbuang percuma.
Suatu hari ketika aku sedang termenung sedniri di belakang rumahku. Ardian mendatangiku, ia usai ngaji di masjid kampong sebelah bersama anak-anak seusianya.
“ayah…ngapain disitu”,ucap ardian mengagetkanku.
“eh anak ayah sudah pulang?”, ucapku .
“Iya yah”,jawab ardian sambil mencium keningku.
“tadi di ajarin apa sama pak ustad?’,tanyaku.
“ayah ustad mengajarkan padaku agar kita selalu bersabar dan jangan pernah bersedih atas kesulitan hidup yang kita alamai, kata ustad La Tahzan”,ujarnya.
“hmmmmm, gitu”,ucapku.
 “ayah… La Tahzan, jangan bersedih meskipun ibu tak ingin lagi bersama kita”,ujar Ardian.
“ardian akan selalu menemani ayah”,lanjutnya kemudian.
Mendengar ucapan itu, aku menjadi tersentuh. Aku malu pada anakku, juga pada Allah SWT. Sebegitu rapunya kah aku?hingga aku harus terus terpuruk dalam kesedihan. Bukankah Janji ALLAH itu tak perlu di ragukan lagi?Ya, janji Allah itu PASTI. Semua itu tertulis dalam sebuah kitap suci Al quran.
Ya Allah, aku malu, aku malu pada Mu.
“mulai hari ini ayah janji tidak akan bersedih lagi nak”, janjiku pada ardian.
Akhirnya Parjo dan Ardian memulai hidupnya yang baru. Parjo bekerja sebagai sopir truk, ia memulai kehidupannya dari nol lagi bersama buah hatinya. Ketika libur sekolah, Parjo selalu membawa Ardian ikut dengannya saat bekerja.

Based On True Story "Supir Truk itu"