Tampilkan postingan dengan label Love of Strawberry. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Love of Strawberry. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Desember 2012

KOPI




Secangkir Kopi menandai adanya kehidupan di pagi hari. Menyambut mentari dengan diiringi kokok merdu si ayam jantan merupakan pertanda semua akan bermula di pagi ini.

Kita selalu melewati pagi bersama secangkir kopi yang ku buat. Cairan kental dan pahit itu memang selalu menyatukan aku dan dirirmu, melebur bersama hangatnya pagi ini. Kopi membuat kita tak pernah bosan pada pahit dan getir kehidupan. Bahkan kita memiliki cara yang berbeda untuk menikmatinya. Sederhana memang, tapi dengan dirimu disampingku yang sederhana itu bisa menjadi istimewa. 

Semoga esok masih bertemu pagi sambil menikmati secangkir kopi buatanmu, sebagai pertanda bahwa kita masih saling berbagi. 

 






Selasa, 07 Agustus 2012

Tersenyum




Tersenyum, sebuah tindakan mudah, tapi terkadang membutuhkan banyak usaha untuk melakukanya. Padahal, dengan senyum akan dapat mencairkan susasana, mendinginkan hati , juga mengurangi jarak dan perbedaan.
Mengapa kita tidak tersenyum lebih sering?Apakah terlalu sulit untuk tersenyum?
Jawabannya terletak pada sikap kita terhadap kehidupan. Jika kita lebih menerima situasi dan bersyukur, maka kita akan dapat tersenyum lebih mudah.



Senin, 26 Maret 2012

Perbedaanlah Yang Membuat Kita Sempurna

 Perbedaanlah yang membuat hubungan kita menjadi SEMPURNA


Pintu kamar berderit saat aku hendak merebahkan tubuhku ke atas ranjang. Ku lihat sekilas, dari balik pintu kamar ada sepupuku, Irna yang siap memberikan segrobak pertanyaan padaku.

"Sar.....bener loe mau kawin sama Damar?" Pertanyaan pertama yang terlontar dari mulutnya yang mungil.

"Iya" Jawabku singkat, karena aku sudah terlalu lelah untuk menjawab pertanyaan yang sama hari ini.

"Yakin....loe mau nikah sama Damar?" Pertanyaan kedua yang ia lontarkan.

"Yakinlah....", Jawabku malas.

"Sarah, tolong dong fikirin lagi tentang keputusan kamu untuk nikah sama Damar” Ucap Irna kali ini di sertai dengan senyum manis di wajahnya.

"Irna..please aku nggak ingin bahas masalah ini dulu,  aku capek" Ucapku sembari menutup telinga dengan bantal.

"Sarah...kita semua sayang sama kamu, begitu juga dengan nyokap loe yang sayang banget sama loe sehingga dia harus keras menentang hubunganmu dengan Damar” Ucap Irna yang sekilas seperti sebuah nasehat padaku.

"Na, denger ya!!! kalau kalian semua sayang gue tolong hormati keputusan gue!!!" Ucapku kali ini bangkit dari ranjangku.

"Emang apanya yang salah sih, gue nikah sama Damar?"Lanjutku.

"Damar thu pria yang gak punya masa depan yang bagus sarah, tolong lebih berfikir realistis, dia kerja apa?nggak jelas khan?”
“Irna…bukan berarti dia nggak punya masa depan yang bagus khan?Dia ulet dan pekerja keras, aku yakin masa depan dia nggak akan kalah kok dengan Budi atau Nathan laki-laki yang mama jodohkan untukku” Aku merajuk mendengar perkataan Irna barusan.
“Iya, tapi butuh berapa lama Damar bisa memperbaiki masa depannya?” Pertanyaan Irna itu benar-benar menusuk jantungku saat ini.
“Sarah…Sory bukannya aku ikut mencampuri urusan pribadi kamu, ini semata-mata karena kita semua sayang sama loe, dan mengingkan kamu mendapatkan pasangan yang sepadan, kalian berdua sangat berbeda” Imbuhnya.

“Na, justru perbedaan itu lah yang membuat aku merasa menjadi wanita paling sempurna di dunia ini” Ujar Sarah sembari menatap lekat sepupunya itu.
“ Sempurna Ketika kelebihanku menutupi kekuranganya dan kelebihanya menutupi kekuranganku.” Tandasku mengakhiri perbincangan malam itu.
   

Kamis, 22 Maret 2012

Ketemuan




Stupid Love demikian aku menyebut perasaan yang saat ini sedang ku alami. Bagaimana tidak, jika kita jatuh cinta kepada seseorang yang sama sekali belum pernah ku temui. Fakta bahwa internet dapat menghubungkan kita dengan teman lama atau saudara, tetapi juga memungkinkan kita untuk berinteraksi dan menjalin pertemanan dengan orang lain dari belahan dunia manapun.
Berawal dari sebuah perkenalan melalui jejaring sosial lalu bertukar no HP, telpon berjam-jam, dan mendengarkan suaranya secara langsung maka terbentuklah sebuah persahabatan di anatar kita, dan tak menutup kemungkinan ikatan emosional yg begitu dekat sehingga membangkitkan rasa yang menyusup tiba-tiba, yaitu jatuh cinta kepada orang yang sama sekali belum pernah ku temui.
Berbicara tentang cinta, rasanya tak ada yang mustahil termasuk mencintai orang asing sekalipun. Hingga berada pada satu titik dimana masig-masing dari kita memutuskan untuk bertemu. Ada perasaan antusias, rindu, penasaran, juga senang ketika memutuskan untuk bertemu. Namun, mendekati pertemuan semua perasaan lenyap menjelma menjadi satu rasa yaitu Kecemasan.
Bagaimana jika perasaanmu berubah setelah pertemuan itu dan bagaimana jika aku tak seperti yang kau bayangkan.
Akupun pernah mengutarakan kepadamu, namun kau selalu berkata "Yakinlah, pertemuan kita tak akan pernah merubah perasaanku terhadapmu."
Tetapi tetap saja perasaan itu masih ada, dan telah sukses menciptakan huru hara di dalam benak dan pikiranku akhir-akhir ini. 
Kemudian hal konyol tiba-tiba terbesit dalam pikirkanku. Aku mensyaratkan dia untuk membawa dua tangkai mawar, yang satu mawar berwarna merah dan satu lagi berwarna putih.
"Berikan mawar merah jika perasaanmu tak berubah padaku, dan berikan mawar putih jika perasaanmu berubah setelah pertemuan kita"
Kedengaranya sangat konyol menurut dia, namun kemudian dia berkata "Baiklah, aku cukup mencari bunga warna merah saja untuk ku bawa bertemu denganmu."
Ah, entahlah apakah aku harus senang atau tidak mendengar jawabanmu di atas. Meskipun begitu, kecemasanku tak urung lenyap.
Aku hanya bisa berkata "Kapan ketemuan?aku sudah tak sabar ingin mengetahui bunga mawar warna apa yang akan kau berikan padaku?"
Sebenarnya, Apapun yang kau berikan padaku nanti , baik mawar merah maupun mawar putih aku hargai pemberianmu, karena aku tahu nggak gampang nyari bunga di daerah tempat tinggalmu, di pedesaan dengan struktur tanah yang kurang cocok di tanami mawar, apalagi syarat tambahan dari ku bahwa bunga mawar yang akan kau berikan padaku haruslah yang asli, tidak layu, dan tak ada satu mahkotapun yang lepas dari kelopaknya.
Mungkin menurut kalian aku bodoh, seharusnya perasaan itu tak pernah ada, tapi memang begitu benar adanya.  Adakah di antara kalian pernah merasakan hal yang sama denganku.




Senin, 12 Maret 2012

Cinta Sudah Terlambat



Suatu pagi di bulan maret, di ujung dermaga, saat langit semu kemerahan di ufuk timur dan embun masih lekat memeluk ilalang, tampak siluet Sarah tengah berdiri menghadap cekung air danau tenang di hadapannya. Mata Sarah asyik mengamati burung-burung yang terbang kesana kemari dengan kicauannya yang merdu. 

Sementara tak jauh dari tempat Sarah berdiri, Damar pemuda desa yang baru saja pulang dari rantau tengah memperhatikan Sarah, Gadis yang selalu ia rindukan. Entah berapa lama Damar menatap lekat gadis yang berdiri memunggunginya itu.

Menyadari ada orang lain selain dirinya di dermaga itu, Sarah pun menoleh ke belakang. Mendapatkan sosok Damar, pemuda desa yang pernah bersemayam di dalam hatinya yang terdalam. Tak ada sepatah kata pun yang meluncur dari mulut masing-masing, walaupun kutahu begitu banyak yang ingin kita katakan. 

Damar perlahan mendekat dan kini mereka saling berhadapan, saling manatap dan saling mengagumi satu sama lain.
Segaris senyuman tersungging di bibir Damar mencoba mengurai kekakuan ini.
Sarah, kamu tak pernah berubah”  Ucap Damar memecah keheningan.
“Masih menyukai dermaga ini”
“Tak ada alasan untuk aku tidak lagi menyukai dermaga ini Damar,” Jawab Sarah melukis senyum di wajah ayunya. Senyum itu, senyum terindah yang selalu Damar rindukan, hatinya selalu bergetar ketika menatapnya.
“Kamu juga tidak pernah berubah Damar, Dermaga ini tempat pertama yang kau tuju ketika pulang ke desa ini”  Ujar Sarah.
Damar tersenyum penuh kemenangan “Ya Sarah…Kerinduanku terhadap dermaga ini lah yang menuntun langkahku untuk pulang.”
“Dan aku berharap……..akan menemukanmu di sini.”
Mendengar ujaran Damar, membuat dirinya tak mampu menaham luapan rindu dan geliat cinta yang selama ini tersimpan rapi di sudut hati Sarah. Waktu yang begitu lama memisahkan dirinya dengan Damar tak membuat rasa itu memudar lalu menghilang dari relung hatinya. Justru Rasa itu semakin kuat ia rasakan. Sarah merasa sudah tak mampu lagi bertahan mati-matian membohongi perasaanya selama ini.
“Aku harus mengatakan sesuatu” Ucap Sarah pada dirinya sendiri.
“Damar….aku selalu menunggu kamu di sini,”  Ucap Sarah membuat Damar menoleh kea rah Sarah dan menatap matanya lekat.
Setelah sekian detik, Damar melemah dan ia tertunduk, seperti ada sesuatu yang hancur dari hatinya. Ia merasa sangat bersalah pada gadis yang ada di hadapannya sekarang ini.
Hening beberapa detik Sarah gunakan untuk mengumpulkan kekuatan. “Rasa ini sudah lama aku simpan Damar, yah….begitu lekat rasa itu di hatiku hingga aku tak sanggup untuk menghilangkannya”  Ujar Sarah Getir
Damar semakin tak sanggup untuk menatap mata Sarah, Ia merasa terlalu pengecut waktu itu, dimana kau anggap itu tak mungkin dan aku menganggap siapa aku? Masing-masing merasa diri terlalu rendah, hingga tak pantas untuk disandingkan dengannya. Dalam hati Damar berujar “Sebenarnya hatiku selalu mencintaimu Sarah, hanya saja aku tak pernah mengatakannya padamu”  Ucap Damar dalam hati.
“Cinta sudah terlambat Sarah, Janji setia untuk sehidup semati sudah terlanjur aku ucapkan”  Ujar Damar memberanikan diri menatap wajah Sarah. Guratan penyesalan tersamar di wajah tampan Damar.
Sarah pun menunduk, jawaban yang begitu menggurat hati menimbulkan sakit yang begitu luar biasa, seperti sebuah tendangan keras  tepat mengenai ulu hatinya menyebabkan mata Sarah panas dan pandangannya perlahan mengabur. Tak lama setelah itu, Sarah pun tak sanggup untuk membendung kesedihannya, Butir demi butir air mata Sarah melelehi pipinya yang merona.
Sakit itu juga menyerang Damar, hatinya tercabik-cabik melihat gadis yang selama ini ia cintai menangis pedih. Seandainya saja, waktu dapat berputar kembali, dan diantara keduanya berani mengungkap rasa ini, maka Sarah tak perlu menangis untuk hari ini.
“Arghhhh…..apalah artinya pengandaian itu sekarang!!!”,  batin Damar menjerit.
“Cinta Sudah Terlambat”, Bisik damar sembari menatap bayangan sarah yang beranjak menjauh  darinya.

PS: I love u forever. Selamat Menempuh Hidup Baru Sahabat Lawas.
Inspirasi dari Lyric Lagu berjudul Cinta Sudah Terlambat By Dygta

Jumat, 09 Maret 2012

Sebuah Pertemuan Ajaib




Sungguh dia tak peduli berapa lama dia berdiri di pantai ini, pantai Dreamland. Dia begitu asyik menyaksikan ombak saling berkejaran, merasakan angin pantai yang membelai lembut rambut panjangnya. Dia sangat menyukai suara merdu laut yang mengalahkan musik terindah sekalipun. Di matanya selalu terpancar keceriaan dan keramahan ketika lalu lalang orang di sekitarnya menyapa.
Ayu nama gadis itu biasa di sapa oleh orang-orang di sekitar sini. Ia selalu menghabiskan sisa hari nya disini, di sebuah bale tempat dia terduduk manis menikmati keindahan pantai dreamland. Sesekali kulihat gadis itu menggoreskan penanya ke selembar kertas. Entah apa yang ia tulis di sana, mungkin saja tentang pantai, senja, atau apapun yang indah di sini.
 Ketika petang menjelma menjadi malam dan cahaya lampu di sekitar rumah penduduk menyala bagaikan kerlip bintang yang menghiasi langit, tiba-tiba awan-awan berarak memenuhi langit yang semula cerah. Senja belum usai tapi matahari sudah berhenti bersinar, perlahan suara merdu pantai tergantikan oleh suara petir yang memecah keheningan hingga membuat dirinya bergidik.
Tak lama setelah itu rinai hujan jatuh membasahi bumi yang lama kelamaan berubah menjadi derasnya hujan. Karen buru-buru berdiri, memberesi buku sketsa bersama alat lukis lainya kedalam tas ransel dan berlari kecil menuju Bale itu.
“Sial Hujan,” Umpat Karen membuat Ayu tersentak dan menatapnya dingin.
Karen tersenyum, “Hai, boleh aku ikut berteduh di sini?”  tanyaku pada Ayu dan hanya di jawab dengan sebuah anggukan kecil.
“Hujanya deras sekali ya,” Ucap Karen diiringi tatapan tajam penuh tanya di benak Ayu.
 “Kenalkan, aku Karen” Ucap Karen memperkenalkan diri sembari mengulurkan tangannya kepada Ayu.
Ayu menatap Karen lama sekali “Kamu?” tunjukknya ke muka ku.
“Hmm…aku Karen, pelukis dari Jakarta.” Ucap Karen dan melanjutkannya dengan “Aku di sini sedang berlibur sekalian mencari inspirasi untuk lukisanku.”
“Aku Ayu,” ujar Ayu  lirih menjabat tanganku lalu menunduk.
“Ayu….kamu cantik seperti nama kamu,” Ujar Karen sontak membuat Ayu mendongak ke arahnya.
Karen mengeryit merasa ada yang salah dengan ucapannya  barusan hingga membuat gadis itu tersontak “Kenapa Ayu?, Maaf bila ada yang salah dengan ucapanku.”
Ayu seolah terhempas ke lorong waktu. Semua ini terasa De Javu. Ia mengenal adegan ini, tempat yang sama, hujan yang sama, ucapan yang sama dan nama yang sama.
“Enggak “, Ucap Ayu merasakan sebuah getaran hebat di balik dadanya.
“Ayu…kamu baik-baik saja khan?” Tanya Karen mencoba menyelami wajah Ayu.
 “Maaf Karen….Bagiku pertemuan ini terasa De javu,” Ujar Ayu.
“Oh ya?....dengan siapa Ayu?” Tanyaku sembari terkekeh mencoba mencairkan suasana.
“Namanya Karen Juga,” Jawab Ayu dengan mata berbinar.
Kali ini Mata Karen terbelalak, mau tak mau harus ikut terkejut dengan ujaran Ayu.
“Pertemuan yang ajaib Ayu,” Bisik Karen dan tersenyum.
Ayu tiba-tiba menangis. Butir demi buitr air mata jatuh membasahi pipinya.
“Ayu..kok nangis, kenapa?” Ujar Karen  panik melihat gadis itu menangis secara tiba-tiba.
“Nggak apa-apa Karen, aku hanya sedang lelah menunggu saja,” Ujar Ayu menyeka air mata, Lalu beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Karen sendiri yang termangu meratapi rintikan hujan yang terjatuh ke bumi.
Hujan sudah reda saat Karen hendak bangkit dari kursi kayu itu, namun langkahnya terhenti ketika melihat selembar kertas tergeletak di lantai Bale itu dan Karen memungut selembar kertas yang bertuliskan:
Dear Karen,
Sekarang aku tahu, aku bisa mencintaimu selamanya, menulis tentangmu selamanya, tapi aku tak bisa hidup dengan bayanganmu selamanya. Semua hanya masa lalu, khan? Aku harus melanjutkan hidup dan berhenti memikirkanmu, Tapi kamu harus tahu, bahwa aku akan selalu mencintaimu. Mengenalmu adalah keajaiban yang tak pernah terbayangkan, Seperti setahun yang lalu kamu pernah mengatakan padaku bahwa pertemuan kita adalah sebuah keajaiban.
Selamat tinggal
Ayu,

Selasa, 06 Maret 2012

Kekasih Sahabatku



Jogjakarta, February, 2012
Seperti ada sesuatu yang remuk dibalik dada Angel, ketika melihat perempuan yang menggandeng lengan Reno siang tadi. Dari Awal Aku memang sudah tahu bahwa mencintaimu adalah sebuah keselahan besar. Mencintai Don juan sepertimu sama seperti melubangi hati sendiri. Sakit dan Pedih yang Angel rasakan membuatnya meringkuk disudut kamarnya yang temaram. Tak lama setelah itu pandangan matanya mengabur dan air mata pun  mebasahi pipinya. Angel merasa menjadi perempuan paling bodoh di dunia mempercayai begitu saja alasan Reno sudah sepekan tidak mengunjungi dirinya ke Jogja karena sedang sibuk dengan bisnis barunya di Solo.
“You liyer….You player”, teriak Angel histeris merobek-robek foto dirinya bersama Reno.
***
Pagi harinya Angel bangun dengan mata sembab akibat menangis semalaman. Ia tengah sibuk mengompres matanya menggunakan es batu yang dibungkus dengan sapu tangan. Lalu dengan satu tangan kanannya Angle memencet angka 1 panggilan cepat ke Reno.
“Hallo Reno…, Ren gue minta mulai sekarang kita nggak usah ketemu lagi ya”, ujar Angel
“Loh Kenapa Ngel”, Tanya Reno.
Hening untuk beberapa detik itu Angel gunakan untuk mengatur nafasnya.
“Gue, mau menikah”, dusta Angel dan Klik telpon terputus. Ia hempaskan ponselnya ke sofa bludru tempat ia terduduk.
Tak lama setelah itu, ponsel Angel berdering. Ia melirik ke layar ponselnya tertera nama “Reno” disana. Lama sekali ponsel itu meraung-raung. Angel hanya menatapnya dingin penuh kebencian terhadap sosok laki-laki yang ada di seberang sana.
“Arghhhhh”, teriak Angel, kepedihannya semakin membuncah mendengar ponsel yang  terus menerus berdering . Ia ambil ponselnya dan membelesakkannya kedalam gelas yang berisi air putih di atas meja. Angel tahu dia nggak meungkin selamanya dekat dengan Reno, Player, sementara semakin hari benih-benih cinta di hatinya kian tumbuh subur.
***
Tiga Bulan Yang lalu
Jogjakarta, November, 2011
Gaun hitam yang ia kenakan membuat penampilanya mempesona malam ini. Rambut panjang hitam legam ia biarkan terurai begitu saja. Air mukanya memancarkan keceriaan ketika mendengar suara bel apartementnya berbunyi. Gadis itu lalu beranjak mendekati pintu. Membuka daun pintu dan menemukan sosok lelaki bermata coklat dibaliknya.
“Hay….”,ujar sosok itu disela cipika cipiki yang mereka lakukan.
“Mau mampir dulu atau langsung Ren”, ujar gadis itu, matanya berbinar.
“Langsung saja ya, anak-anak sudah nunggu thu”, Ucapnya sembari melingkarkan tanganya ke pinggang gadis itu.
Gadis itu bernama Angelina, biasa di sapa angle. Single yang high quality. Selain bekerja sebagai penyiar radio di Jogjakarta ia mempunyai kesibukan untuk menyelesaikan study SII nya di salah satu Universitas Negeri Jurusan Komunikasi di kota ini. Sedangkan sosok bermata coklat itu Reno seorang pengusaha kaya raya asal Solo. Mengurusi 2 hotel keluarga dijogja dan solo serta  usaha batik adalah rutinitas sehari-harinya.
Mereka  berdua tidak sedang berpacaran, hanya casual dating saja karena sudah berteman baik sejak SMU. Tubuh tinggi langsing yang di dukung dengan parasnya yang cantik tak sedikit pria tajir yang mengantri ingin berkencan dengan Angel. Tapi Selama ini memang Angel selalu “available” untuk Reno. Ia selalu mengosongkan jadwalnya bahkan membatalkan janji dengan pria lain ketika Reno tiba-tiba mengajaknya untuk bertemu. Bisa 2-3 kali dalam seminggu Reno bisa bolak-balik dari Solo ke Jogja untuk menemui Angel. Dan tak jarang juga Reno sampai menginap di apartemen Angel di Jogja. Semua itu mereka lakukan tanpa sebuah komitement apapun, hanya atas dasar Fun saja. Ya, sudah biasa pemandangan seperti itu terjadi di kota-kota besar seperti Jogjakarta.

***
Jogjakarta, Maret 2012
Suatu pagi Angel merasa badannya terasa lemas, kepalanya pusing , dan hampir tiap pagi ia selalu muntah-muntah. Kepanikan melanda dirinya ketika dia mengingat bahwa dirinya sudah lebih dari sebulan ini tidak juga datang bulan.
“Benerkah gue hamil?”,bisiknya. Tanpa pikir panjang Angel bergegas turun ke Apotek di bawah Apartementnya untuk membeli alat tes kehamilan.
Benar saja setelah menggunakan alat tersebut dapat diketahui bahwa saat ini dia sedang mengandung. Angel syok. Ia mengurung diri seharian di dalam kamarnya. Meringkuk di sudut ranjang menikmati kepedihan dan kegamangan hatinya. Ia tahu betul siapa ayah biologis anak yang sedang bersemayam di rahimnya itu. Ya, Reno lah orangnya, hanya dengan Reno Angel melakukannya.
Seperti ada kekuatan yang besar muncul secara tiba-tiba dalam diri Angel.. Ia menghapus air matanya, berulang kali ia lakukan hal itu sampai tak ada air mata yang membasahi pipinya maupun air mata baru yang keluar dari kedua bola matanya. Angel beranjak dan menyambar kunci mobil yang tergeletak di lantai kamarnya. Melaju kencang menerabas jalanan menuju Solo.
“Gue harus lakukan ini”,ujar Angel sembari berkonsentrasi dibalik kemudi mobilnya. “Aku nggak mau kelak anakku tak memiliki ayah”, lanjutnya.
Akhirnya setelah menempuh perjalanan hampir 1,5 jam dari Jogja, Angel sampai juga di pelataran parkir sebuah Hotel di Solo milik keluarga Reno. Kedatangan Angel disambut oleh salah seorang Security Senior yang kebetulan mengenal Angel. Ayah Angel  adalah salah satu pemilik saham terbesar kedua di Hotel Reno.
“Malam mbak Angel”,sapa satpam senior itu.
“Malam Pak,….Pak Reno nya ada di ruangannya pak”,tanya Angel.
“Ada mbak, silahkan silahkan”, Ujar Satpam Senior mempersilahkan Angel masuk.
Dengan langkah gontai Angel menuju ruangan Reno. Mata dan Senyumnya berbinar ketika melihat Reno dari sela-sela pintu yang terbuka sedikit sedang terduduk di sudut meja. Perlahan Angle melangkah mendekati pintu ruangan Reno, dan membuka lebar pintunya.
“Ren….”,Sapa Angel dan secara bersamaan ia melihat sosok lain selain Reno di ruangan itu. Ya, wanita yang tempo hari ia lihat sedang menggandeng mesra tangan Reno.
“Angel…”, Ujar Reno terkejut.
“Oh sory, gue ganggu ya….”,Ucap Angel sambil berbalik dan mengambil langkah seribu meninggalkan ruangan Reno.
“Ngel….Angel….”,teriakan Reno tak sedikitpun ia hiraukan. Angel berlalu begitu cepat hingga Reno terengah-engah untuk dapat menyusulnya.
Hingga sampai di depan receptionist Angel merasa ada yang mencengkeram tangannya kuat.
“Ngel….Tunggu”, Bentak Reno. Dan secepat kilat tubuhnya berbalik menghadap Reno.
“Ngel…Loe kenapa sih”, Ujar Reno. “Loe kok nangis”, lanjutnya ketika melihat mata Angel basah.
“Nggak apa-apa Ren, Sory…lepasin gue, gue harus pergi”, Ujar Angel berusaha melepaskan cengkraman tangan Reno. Angel pergi meninggalkan Reno yang tengah di landa kebingungan karena sikap Angel yang akhir-akhir ini berubah
***
Solo, February 2012.
Reno masih termangu menatap layar computer di meja kerjanya. Hari ini banyak kerjaan, tapi nampaknya Reno sedang tidak berkonsentrasi untuk bekerja. Badannya ada disini, namun pikiranya sedang memikirkan sosok itu. Ya benar, dia sedang memikirkan Angel, sahabatnya yang sudah mulai berubah akhir-akhir ini.
Angel yang Reno ketahui adalah sosok perempuan yang ramah, murah senyum, dan ceria, tiba-tiba mendadak dingin, sinis, dan pemurung. Semenjak Angel melarang dirinya untuk bertemu, Reno mejauh namun tak benar-benar menjauh dari Angel.  Tanpa sepengetahuannya, Reno pernah beberapa kali mengikuti Angel, mengamati aktifitas Angle dan Ia pun tahu akhir-akhir ini Angel jarang sekali masuk kerja dengan alasan sakit.  Sebenarnya Reno sangat peduli terhadap Angel.
 “Ngel,gue ikut senang semisal loe beneran akan nikah sama orang yo loe cinta, meskipun sebenarnya gue merasa kehilangan loe”, Ujar Reno terlebih terhadap dirinya sendiri.
Beep Beep
Sebuah pesan singkat masuk dari Blakcberrynya.
“Pesan dari nomor tak dikenal”, Ucapnya sambil membuka pesan singkat tersebut yang isinya:
Reno…ini gue Angel, sahabat loe.
Sebenernya gue mau mengatakan sesuatu hal semalam. Gue merasa, waktu ngelihat loe dengan perempuan itu….semua udah terlambat, makanya gue lebih pilih diam.
Reno…dalam perut gue ada darah daging loe. Gue nggak mau menuntut apa-apa dari loe Ren, karena gue tahu itu nggak mungkin terjadi. Tapi, satu hal yang musti loe tahu, bahwa gue nggak mungkin ngelakuin ini semua tanpa cinta, gue baru sadar, gue cinta loe.
Reno…gue pamit. Besok gue mau pindah ke Singapura, gue udah memutuskan untuk tinggal disana bersama mama. Disana gue akan membesarkan anak ini.
***
Jogjakarta, February 2012
Hujan sudah mereda ketika Reno tiba di depan loby Apartement. Tanpa pikir panjang, Reno menuju ke Apartement Angle. Ia mengetuk pintu itu, dan tak lama kemudian seseorang yang sangat ia rindukan muncul dari balik pintu.
“Reno…”, Angel terbelalak melihat Reno ada di hadapannya.
“Ngel….”, sapa Reno. Ia tak mampu berucap, matanya berkaca-kaca melihat Angel semakin kurus sekarang. Matanya sembab, pertanda ia sudah terlalu banyak menangis karenanya.
Suasana tiba-tiba mendadak hening. Masing-masig berada dalam pikirannya masing-masing.
“Gue juga nggak mungkin melakukan itu tanpa Cinta Ngel…”, Ucap Reno memecah keheningan.
“Loe dan juga semua orang boleh mengira kalau gue ini Player, Don Juan, tapi satu hal yang harus loe tahu….cuman sama loe gue ngelakuin itu”, Ucap Reno. “Ngel…. I think I love You”, Reno memeluk erat tubuh mungil itu.
“Loe Cinta yang selama ini gue cari”, Ujar Reno. Tangis Angel pecah dalam pelukan Reno, pelukan yang hangat dan membuatnya merasa nyaman.
“Cewek itu….yang sama loe semalam”, Ucap Angel sesenggukan. “ Loe Nampak serasi dengan nya”, Lanjut Angel.
“Ngel, dia Nadine, sepupu gue yang baru pulang dari malasya, dia akan bergabung di Hotel, makanya gue lebih sering sama Nadine untuk mengajari dia”, penjelasan Reno sudah cukup membuat Angel lega, dan dia percaya sahabatnya. Senyumnya kembali mengembang.
“Ngel, gue….mohon jangan pergi. Kita akan sama-sama membesarkan anak yang ada dalam rahim loe sekarang”, Reno memohon dan perlahan melepaskan pelukannya.
“Reno…tak ada alasan bagiku untuk pergi, Gue cinta loe”, Ujar Angel menatap Reno dalam-dalam.
 “Ternyata lamanya persahabatn kita……tak membuat kita saling mengerti tentang perasaan kita masing-masing ya”, Ujar Reno terkekeh.

Rabu, 29 Februari 2012

Tangis



Pagi buta udara masih dingin terasa, apalagi semalam habis turun hujan. Aku masih enggan untuk turun dari ranjangku, pagi ini rasanya aku malas sekali bangun. Padahal sudah dari tadi aku terjaga, aku tidak benar-benar tertidur tapi juga tidak sepenuhnya sadar. Mataku terasa berat tergelayuti oleh rasa kantuk dan tubuh ini kaku hingga aku tak dapat menggerakkannya.

Aku mendengar seseorang perlahan masuk ke kamarku. Ia memanggil namaku sekali...
"ta, bangun ta" 
Aku tak bergeming dan masih saja meneruskan tidurku. 

Sayup-sayup aku mendengar suara tirai terbuka dan sinar matahari menyeruak masuk ke suluruh ruangan itu melalui kaca jendela.

"ta....bangun, udah siang loh",suara itu kembali mengusikku di susul dengan sedikit guncangan lembut di bahuku.
Aku menggeliat kecil dan perlahan membuka mataku yang masih terasa mengantuk.
"hey...bangun, kamu kenapa",suara itu kembali menggema.
Aku mengerjapkan mata, sekuat tenaga kubuka mataku demi melawan kantuk ini.
"Lia....",satu kata yang kulontarkan ketika melihat sosok perempuan cantik sudah berada di hdapanku. Dia adalah sahabat sekaligus partenr kerjaku yang ikut membesarkan butik ini.
"hey...kamu kenapa tidur disini?",ujarnya.
Aku baru sadar bahwa aku sedang tidak berada di kamarku tapi di ruangan kerjaku.
"astaga....aku ketiduran disini",ucapku. Aku mencoba mengingat kejadian kemarin sore. Tentang hujan dan kamu.
"ada apa ta?",ujar lia kebingungan melihat wajahku yang aneh mungkin.
"aku habis ketemu sama rico",jawabku sambil bangkit dari sofa bludru merah tempatku tertidur.
"Rico....lantas?",ucapan lia sedikit menggantung.
"bukan rico anak ku tapi ayahnya rico",ujarku menguncangkan bahu sahabatku itu.
"what.....ayahnya rico!!!!dimana?kapan?terus gimana....",lia terkejut mendengar ujaranku itu. Ya, mungkin sama terkejutnya dengan aku sore kemarin. 

"sore kemarin.  dia pengantin prianya Zen klien kita",jawabku menjelaskan.
"what....Zen?",kali ini lia lebih terkejut lagi. Ia masih belum bisa mempercayai perkataanku. Bahkan sampai sekarangpun aku masih belum juga percaya kembali bertemu dengan rico.
"iya...Zen akan menikah dengan rico",jawabku berusaha meyakinkannya.
"oh my god...terus?sekarang apa yang akan kamu lakukan ta",ucap lia mondar-mandir di hadapanku.
Huff.....aku menghempaskan nafasku dalam-dalam "aku masih belum siap ketemu sama dia ya",ujarku.
"aku ngerti gimana perasaanmu kok ta",ucap lia menatap mataku. "ya udah sekarang kamu pulang aja ya, istirahat. hari ini biar aku aja yang handle kerjaan",lanjutnya memberikanku semangat lewat sentuhan tangannya.
"oke ya...makasih ya",ujarku beranjak dari sofaku "aku cuman butuh untuk mandi dan ketemu pangeran kecilku, setelah itu aku balik ke butik lagi kok", lanjutku dan tersnyum pada lia. Hanya senyum itulah yang menjadi kekuatanku saat ini.
 
***
Aku bergidik usai menonton berita di TV siang itu perihal hujan ekstrim yang tengah melanda di berbagai daerah khusunya di Indonesia. Banyak korban dalam musibah ini, tak mengenal usia, tua maupun muda. Aku jadi teringat akan pangeran kecilku. Ia selalu mencintai hujan. Katanya ",sensasi hujan itu menyenangkan mommy, jadi ijinkan aku untuk bermain-main dibawah rinai nya ya? " . Selalu begitu katanya, membujukku agar dibolehin hujan-hujanan. Kalau sudah begitu ia kan berlari ke belakangan rumah. Bak penari hujan berlarian kesana kemari. 
"Ah, kamu selalu membuat mommy tersenyum",ucapku lalu beranjak pergi ke sekolah rico untuk menjemputnya.

Bahagianya melihat senyum dan mata rico yang berbinar-binar ketika melihatku sudah ada untuk menjemput dirinya. Allhamdullilah, ini adalah hadiah terindah yang pernah Allah SWT hadiahkan untukku.

"mommy",teriaknya lalu berhambur ke pelukannku.

Di sepanjang perjalanan menuju butik aku berbincang dengan rico. Menanyakan apakah ada PR hari ini dan belajar apa saja di sekolah. Tak lupa aku mengingatkannya agar berhati-hati saat bermain hujan di belakang rumah.
"oke mommy, dont worry, aku akan slalu berhati-hati", begitu jawabnya sembari tersnyum padaku.

Syukurlah dia mengerti akan nasehatku. 

***
Beep beep Blackbery ku berbunyi saat aku baru keluar dari mobilku. Ku lirik sekilas dilayar ponselku tertera sebuah nama "Zen Klien".

"halo Zen",ucapku setelah memencet tombol hijau di ponselku.

Tak ada suara, hanya terdengar kegaduhan lalu lintas di seberang sana.

"Zen...Zen",panggilku.

"Ha...halo, ini gue rico",suara itu bagiku begitu dasyat. Sedasyat suara petir yang menggelegar di kala hujan turun.

Aku menarik napas pelan-pelan dan menghempaskannya pula secara perlahan. Aku harus bisa menghadapinya dengan tenang.

"iya, ada apa rico",jawabku 

"Sepertinya gue perlu bicara dengan loe ta",ucapnya setelah sekian detik hening.

"Oh bisa ko, dimana?sama Zen juga khan?",jawabku masih terlihat mengusai diri.

"pliss... ta, jangan pura-pura baru mengenal gue ",teriak pria itu. "gue mau bicara tentang kita",ujarnya menggores luka lama dihatiku.

"Kita katamu?bukankah kita sudah usai",ujarku dengan segenap hati mengumpulkan sebuah keyakinan bahwa aku tak lagi membutuhkan dia dalam hidupku. "tak ada waktu untuk membicarkan itu rico".

 Lalu rico memohon

"ta..pliss kasih kesempatan sekali ini aja, gue tunggu loe di cafe bamboo jam delapan malam ini",

Kesempatan katamu?bertahun-tahun lalu sudah kuberikan kesempatan itu untukmu tapi kamu melewatkannya, bertahun-tahun aku menangis untuk sebuah permohonanmu itu. 
Maaf ko, kali ini kesempatan itu sudah tertutup rapat-rapat untukmu.  

"maaf, gue nggak ada waktu",tolakku.

"gue tetep aku nunggu loe",ujarnya lalu mengakhiri pembicaraan.
 

Hatiku sakit, terlampau sakit rico. Dan gerimispun membasahi pipiku.

"Mommy....mommy nangis?",ucap rico mengagetkanku.

Rico, Oh, tidak!!! kumohon aku tak ingin mempertontonkan air mata ini padanya. Baguslah,  hujan menyelamatkan aku dari situasi ini. Dan kusembunyikan tangisku dibalik hujan siang ini.

"nggak kok sayang, ini hanya air hujan so dont worry sayang",ujarku. Lalu menatap cakrawala yang tertutup awan hitam pekat.  


Cerita sebelumnya: 

Hujan Sore Ini dan Kamu  dan Kenangan






 #dipersembahkan untuk penari hujan dan rianai hujan.