Kamis, 15 Maret 2012

Semangat Meraih Mimpi



Siapa saja tentu boleh memiliki mimpi. Dan lebih bahagia lagi ketika mimpi itu dapat tercapai walau tidak sesempurna yang diimpikan. Ketika remaja, saya pernah mempunyai mimpi, dan mimpi itu pernah saya tuliskan di sebuah buku agenda, lengkap dengan visualisasi, dan strategi untuk dapat mencapai mimpi saya.

Di buku agenda itu, saya menuliskan mimpi pertama saya yaitu ingin sekali menerbitkan tulisan saya. Bak punuk merindukan bulan, terlalu sulit rasanya untuk dapat menggapai mimpi itu. Bagaimana bisa terwujud jika saya tidak pernah mempunyai keberanian membiarkan tulisan saya di baca oleh banyak orang. Bagaimana bisa jika saya tidak pernah mencoba untuk menawarkan tulisan saya ke penerbit/majalah di masa itu. Mustahil rasanya. Yah, semua itu hanyalah sebuah mimpi di masa itu saja. Pada akhirnya semua akan berubah seiring dengan berjalanya waktu. Saya mulai menyadari bahwa real self dan ideal self tidak selaras.

Walaupun, di masa itu. Saya pernah bahagia karena saya dekat dengan mimpi saya. Mungkin bagi kalian semua itu tidak ada artinya, tapi bagi saya itu amat berharga. Saya menyabet Juara 1 Lomba Menulis tentang "Maulid Nabi" di Sekolah. Ah, saya jadi bernostalgia atas kebahagian itu.
Saya pernah berada pada titik jenuh, merasa jengah dengan karya-karya sendiri. Saya merasa bahwa semua yang saya lakukan hanyalah sebuah kesia-siaan saja. Menulis sama dengan buang-buang waktu saja. Sebuah hobi yang tidak ada manfaatnya. Akhirnya, saya berhenti menulis dan perlahan memudarkan mimpi saya itu semudah menghilangkan buku agenda saya tempat untuk meletakkan semua mimpi saya.

Tepatnya kapan saya tidak ingat saya kembali menulis. Mungkin semenjak saya memasuki suatu fase dalam kehidupan saya, merubah kehidupan saya secara total. Di saat saya kehilangan karier, sahabat, juga kekasih sekaligus. Ya, di kala siapaun tak dapat ku percayai untuk menyimpan perasaan sedih, kehilangan, dan juga kegagalan saya, saya memilih untuk menulis.

Semangat saya membuncah setelah bergabung dengan teman-teman di ngerumpi. Saya merasa hasrat untuk menulis tak sanggup lagi untuk di bendung, saya kembali merasakan dekat dengan mimpi saya.
Awalnya, Iya....saya grogi dan kurang percaya diri dengan tulisan yang akan saya posting. Tapi untungnya warga ngerumpi sangat welcome dengan warga baru seperti saya. Apresiasi yang tinggi terhadap tulisan-tulisan saya secara perlahan menepis rasa grogi dan kurang percaya diri tersebut. Kehebatan mereka dalam menulis membuat saya semakin giat belajar menulis.

Tell Your Wishes artikel yang di tulis oleh mbak Ladypiano cukup menegur saya. Membangkitkan kembali mimpi-mimpi itu, juga semangat saya untuk terus menulis. Sahabatku, mbak ladypiano terima kasih telah memberikan banyak masukan dan inspirasi kepada saya, juga kepada seluruh warga Ngerumpi yang selalu hangat menyapa saya. Oh ya, satu mimpi sederhana saya barusan terwujud lho....hehe. Mimpi sederhana menjadikan tulisan saya bertengger di kolom Pilihan Moderator Ngerumpi. Allhamdullilah, artikel Gosip menjadi perhatian sang moderator. Amien.
Baru saya sadari bahwa kini menulis sudah menjadi bagian di hidup saya. Menulis adalah mimpi saya dari dulu hingga sekarang. Bolehlah Agenda itu hilang, namun mimpi itu masih lekat di hati saya. Walaupun saya tak pernah tahu kapan mimpi itu akan terwujud. Tapi, bersungguh-sungguhlah dalam meraih mimpi, mereka yang bisa meraih mimpinya adalah mereka yang mempunyai semangat membara untuk meraihnya.
Sekelumit kisah tentang semangat dan mimpi seorang pemimpi seperti saya. Apa mimpimu kawan, jangan segan untuk menuliskannya di sini, karena hidup berawal dari mimpi seperti yang di katakan Bondan & Fade @ Black di lagunya.




Rabu, 14 Maret 2012

GOSIP



Gosip selalu identik dengan wanita atau ibu-ibu.  Bergosip sudah menjadi bagian dari Lifestyle wanita di jaman sekarang ini. Dulu, saya pernah menjadi bagian dari jajaran penggosip, pernah pula jadi korban penggosip, dan sekarang berusaha mengendalikan diri dari untuk menjauhi kebiasaan bergosip. 

Sebelum membahas terlalu jauh tentang Gosip, saya mencoba mendefiniskan kata gossip itu sendiri dengan bantuan kamus bahasa Indonesia. Gosip adalah cerita negative tentang seseorang, berarti kalau bergosip itu adalah menceritakan hal negative tentang seseorang.

Jika di lihat dari definisi tersebut sudah jelas bahwa bergosip itu bisa di kategorikan sebagai perbuatan yang tidak baik. Menikmati kesenangan dengan meceritakan keburukan atau aib orang lain. Terkadang gossip dapat menjurus ke perbuatan fitnah dengan di taburi sedikit bumbu. Bersyukurlah jika anda memang bukan termasuk jajaran penggosip maupun korban dari penggosip itu kawan. 

Sesungguhnya bergosip itu tak memiliki manfaat bagi kehidupan kita, justru akan banyak dampak yang ditimbulkan dari kegiatan bergosip itu sendiri. Bukankah setiap perkataan yang keluar dari mulut kita merupakan cerminan hati kita yang sesungguhnya?
Kita tidak akan tampak lebih Cerdas dan Gaul dengan bergosip, saya yakin banyak cara yang dapat kita lakukan untuk menjadi orang yang asyik untuk di ajak gaul tanpa bergosip. Gunakan potensi yang kita punya, jangan dengan cara-cara kotor seperti bergosip. 

Seringkali saat bergosip tentang teman maupun rekan kerja kita, kita merasa pada posisi dimana kita lebih tahu segalanya dari pada orang lain. Padahal ya, setiap orang itu memiliki sisi kehidupan yang tak pernah kita ketahui sebelumnya. Ingat!!! Kita bukanlah Tuhan yang tahu segalanya. Misal ketika ada seorang perempuan di kantor saya di gosipkan sebagai perempuan yang kasar dan tak pernah beramah tamah dengan orang disekelilinya, padahal tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya dia sedang stres karena mempunyai masalah dengan keluarganya. 

Instropeksi diri sendiri sebelum sibuk membicarakan kesalahan orang lain. Bercerminlah tentang keselahan-kesalahan kita di masa lalu. Ingat!!! bahwa setiap manusia pernah berbuat kesalahan seperti kita yang pernah melakukan kesalahan-kesalahan di masa lalu.

Lalu bagaimana jika kita jadi korban penggosip? (seperti yang saat ini saya alami)

Diam. Ya, Diam bukan berarti membenarkan gosip itu kawan. Menghadapi gossip tidak perlu dengan meluapkan kemarahan. Ya saya rasa itu adalah cara ampuh yang akan saya lakukan ketika didera Gosip tidak enak. Selama saya benar, saya tidak akan pernah takut untuk menghadapi mereka para penggosip. Saya percaya, suatu saat kebenaran akan membungkam sendiri mulut-mulut mereka.
Monggo di komentari berbagi pengalaman untuk korban gosip yang sudah memiliki jam terbang tinggi. He he he….

Yang paling asyik itu ngomongin kejelekan orang lain. Yang paling mudah itu menyalahkan orang lain. Yang paling menyenangkan adalah menikmati penderitaan orang lain. : Beginilah jika dunia terbalik dan manusia mulai kehilangan sifat dasar kemanusiaan. Lebih senang melihat orang lain susah dan menjadi susah melihat orang lain senang. Jika begitu masihkah layak disebut manusia jika tak lagi punya hati nurani dan tak ada semangat hidup kebersamaan?
By Dinda Natasya


Senin, 12 Maret 2012

Cinta Sudah Terlambat



Suatu pagi di bulan maret, di ujung dermaga, saat langit semu kemerahan di ufuk timur dan embun masih lekat memeluk ilalang, tampak siluet Sarah tengah berdiri menghadap cekung air danau tenang di hadapannya. Mata Sarah asyik mengamati burung-burung yang terbang kesana kemari dengan kicauannya yang merdu. 

Sementara tak jauh dari tempat Sarah berdiri, Damar pemuda desa yang baru saja pulang dari rantau tengah memperhatikan Sarah, Gadis yang selalu ia rindukan. Entah berapa lama Damar menatap lekat gadis yang berdiri memunggunginya itu.

Menyadari ada orang lain selain dirinya di dermaga itu, Sarah pun menoleh ke belakang. Mendapatkan sosok Damar, pemuda desa yang pernah bersemayam di dalam hatinya yang terdalam. Tak ada sepatah kata pun yang meluncur dari mulut masing-masing, walaupun kutahu begitu banyak yang ingin kita katakan. 

Damar perlahan mendekat dan kini mereka saling berhadapan, saling manatap dan saling mengagumi satu sama lain.
Segaris senyuman tersungging di bibir Damar mencoba mengurai kekakuan ini.
Sarah, kamu tak pernah berubah”  Ucap Damar memecah keheningan.
“Masih menyukai dermaga ini”
“Tak ada alasan untuk aku tidak lagi menyukai dermaga ini Damar,” Jawab Sarah melukis senyum di wajah ayunya. Senyum itu, senyum terindah yang selalu Damar rindukan, hatinya selalu bergetar ketika menatapnya.
“Kamu juga tidak pernah berubah Damar, Dermaga ini tempat pertama yang kau tuju ketika pulang ke desa ini”  Ujar Sarah.
Damar tersenyum penuh kemenangan “Ya Sarah…Kerinduanku terhadap dermaga ini lah yang menuntun langkahku untuk pulang.”
“Dan aku berharap……..akan menemukanmu di sini.”
Mendengar ujaran Damar, membuat dirinya tak mampu menaham luapan rindu dan geliat cinta yang selama ini tersimpan rapi di sudut hati Sarah. Waktu yang begitu lama memisahkan dirinya dengan Damar tak membuat rasa itu memudar lalu menghilang dari relung hatinya. Justru Rasa itu semakin kuat ia rasakan. Sarah merasa sudah tak mampu lagi bertahan mati-matian membohongi perasaanya selama ini.
“Aku harus mengatakan sesuatu” Ucap Sarah pada dirinya sendiri.
“Damar….aku selalu menunggu kamu di sini,”  Ucap Sarah membuat Damar menoleh kea rah Sarah dan menatap matanya lekat.
Setelah sekian detik, Damar melemah dan ia tertunduk, seperti ada sesuatu yang hancur dari hatinya. Ia merasa sangat bersalah pada gadis yang ada di hadapannya sekarang ini.
Hening beberapa detik Sarah gunakan untuk mengumpulkan kekuatan. “Rasa ini sudah lama aku simpan Damar, yah….begitu lekat rasa itu di hatiku hingga aku tak sanggup untuk menghilangkannya”  Ujar Sarah Getir
Damar semakin tak sanggup untuk menatap mata Sarah, Ia merasa terlalu pengecut waktu itu, dimana kau anggap itu tak mungkin dan aku menganggap siapa aku? Masing-masing merasa diri terlalu rendah, hingga tak pantas untuk disandingkan dengannya. Dalam hati Damar berujar “Sebenarnya hatiku selalu mencintaimu Sarah, hanya saja aku tak pernah mengatakannya padamu”  Ucap Damar dalam hati.
“Cinta sudah terlambat Sarah, Janji setia untuk sehidup semati sudah terlanjur aku ucapkan”  Ujar Damar memberanikan diri menatap wajah Sarah. Guratan penyesalan tersamar di wajah tampan Damar.
Sarah pun menunduk, jawaban yang begitu menggurat hati menimbulkan sakit yang begitu luar biasa, seperti sebuah tendangan keras  tepat mengenai ulu hatinya menyebabkan mata Sarah panas dan pandangannya perlahan mengabur. Tak lama setelah itu, Sarah pun tak sanggup untuk membendung kesedihannya, Butir demi butir air mata Sarah melelehi pipinya yang merona.
Sakit itu juga menyerang Damar, hatinya tercabik-cabik melihat gadis yang selama ini ia cintai menangis pedih. Seandainya saja, waktu dapat berputar kembali, dan diantara keduanya berani mengungkap rasa ini, maka Sarah tak perlu menangis untuk hari ini.
“Arghhhh…..apalah artinya pengandaian itu sekarang!!!”,  batin Damar menjerit.
“Cinta Sudah Terlambat”, Bisik damar sembari menatap bayangan sarah yang beranjak menjauh  darinya.

PS: I love u forever. Selamat Menempuh Hidup Baru Sahabat Lawas.
Inspirasi dari Lyric Lagu berjudul Cinta Sudah Terlambat By Dygta

Sabtu, 10 Maret 2012

Olive Oil


Masih ingat dengan tokok kartun "Olive Oyl" di film animasi Popeye manusia penyuka bayam. Masih ingat dong?Hehe.
Sungguh, bagi saya tokoh "Olive Oyl" tersebut membuat saya teringat pada masa ketika saya duduk di bangku sekolah SMP, dimana teman-teman saya selalu menjulukiku dengan panggilan "Olive Oyl" . Kenapa?
Karena saya SMP adalah seorang gadis tinggi kecil berambut ikal (gak lurus juga ga keriting) sebahu dengan poni keriting di bagian depannya mirip "Olive Oil". Asli Cupu banget. Dan saya ketika itu sangat sebal sekali dengan julukan itu. Karena itulah saya sangat benci sama tokoh "Olive Oil" tersebut. Rupanya tokoh "Olive Oil" tersebut masih sangat melekat pada diri saya hingga sekarang.

Jadi ceritanya  semalam ada reuni kecil-kecilan sama teman SMP yang sekarang di Surabaya. Kami janjian jam 20.00 WIB di salah satu cafe di SUTOS, Surabaya. Kami hanya berlima, meskipun sedikit tapi seru banget reuni tersebut. Yah, senang sekali ketika kita dipertemukan lagi dengan orang-orang yang dulu pernah kita kenal dekat setelah hampir 10 tahun tidak pernah ketemu. Mendengar pendapat mereka tentang bagaimana kita dulu adalah salah satu penyebab kegaduhan yang tercipta di meja kami. Ada "den bagus" yang dijuluki sebagai tukang berantem, ada "deje" yang sering di juluki dengan sebutaan "penakluk wanita", dan saya sendiri dijuluki dengan sebuatan "Olive Oil" :((

"Wah kamu sekarang berubah ya?feminim agak gendut nggak seperti Olive Oil lagi," celetuk Deje ke saya yang secara spontan diiringi tawa setengah meledek dari kawan lainnya. Sementara saya cuman mesem-mesem nggak jelas. 
"Iya lah, waktu dan lingkungan yang merubah saya," Jawabku membela diri. 
"Dulu kamu itu pendiem lho!kok sekarang jadi cerewet gini sih?," Ujaran kawanku yang lain spontan membuatku dan kawan yang lain terkekeh.
"Ah, masak sih?Biasa aja kali," Jawabku mengernyitkan dahi.
"Iya, kamu thu masih kayak "Olive Oil"____cerewetnya maksudku," Ujar Deje sembari terbahak bersama kawan-kawan yang lain.

Pikirku Deje ini nggak pernah berubah, dia masih sama teman SMP ku yang menyebalkan dan selalu menjuluki aku dengan "Olive Oil" tokoh perempuan yang selalu dicintai popeye manusia bayam. Itulah sekelumit cerita tentang julukanku dimasa kecil.
Kalau kalian pernah punya julukan apa dari teman lama dan kenapa?

Jumat, 09 Maret 2012

Sebuah Pertemuan Ajaib




Sungguh dia tak peduli berapa lama dia berdiri di pantai ini, pantai Dreamland. Dia begitu asyik menyaksikan ombak saling berkejaran, merasakan angin pantai yang membelai lembut rambut panjangnya. Dia sangat menyukai suara merdu laut yang mengalahkan musik terindah sekalipun. Di matanya selalu terpancar keceriaan dan keramahan ketika lalu lalang orang di sekitarnya menyapa.
Ayu nama gadis itu biasa di sapa oleh orang-orang di sekitar sini. Ia selalu menghabiskan sisa hari nya disini, di sebuah bale tempat dia terduduk manis menikmati keindahan pantai dreamland. Sesekali kulihat gadis itu menggoreskan penanya ke selembar kertas. Entah apa yang ia tulis di sana, mungkin saja tentang pantai, senja, atau apapun yang indah di sini.
 Ketika petang menjelma menjadi malam dan cahaya lampu di sekitar rumah penduduk menyala bagaikan kerlip bintang yang menghiasi langit, tiba-tiba awan-awan berarak memenuhi langit yang semula cerah. Senja belum usai tapi matahari sudah berhenti bersinar, perlahan suara merdu pantai tergantikan oleh suara petir yang memecah keheningan hingga membuat dirinya bergidik.
Tak lama setelah itu rinai hujan jatuh membasahi bumi yang lama kelamaan berubah menjadi derasnya hujan. Karen buru-buru berdiri, memberesi buku sketsa bersama alat lukis lainya kedalam tas ransel dan berlari kecil menuju Bale itu.
“Sial Hujan,” Umpat Karen membuat Ayu tersentak dan menatapnya dingin.
Karen tersenyum, “Hai, boleh aku ikut berteduh di sini?”  tanyaku pada Ayu dan hanya di jawab dengan sebuah anggukan kecil.
“Hujanya deras sekali ya,” Ucap Karen diiringi tatapan tajam penuh tanya di benak Ayu.
 “Kenalkan, aku Karen” Ucap Karen memperkenalkan diri sembari mengulurkan tangannya kepada Ayu.
Ayu menatap Karen lama sekali “Kamu?” tunjukknya ke muka ku.
“Hmm…aku Karen, pelukis dari Jakarta.” Ucap Karen dan melanjutkannya dengan “Aku di sini sedang berlibur sekalian mencari inspirasi untuk lukisanku.”
“Aku Ayu,” ujar Ayu  lirih menjabat tanganku lalu menunduk.
“Ayu….kamu cantik seperti nama kamu,” Ujar Karen sontak membuat Ayu mendongak ke arahnya.
Karen mengeryit merasa ada yang salah dengan ucapannya  barusan hingga membuat gadis itu tersontak “Kenapa Ayu?, Maaf bila ada yang salah dengan ucapanku.”
Ayu seolah terhempas ke lorong waktu. Semua ini terasa De Javu. Ia mengenal adegan ini, tempat yang sama, hujan yang sama, ucapan yang sama dan nama yang sama.
“Enggak “, Ucap Ayu merasakan sebuah getaran hebat di balik dadanya.
“Ayu…kamu baik-baik saja khan?” Tanya Karen mencoba menyelami wajah Ayu.
 “Maaf Karen….Bagiku pertemuan ini terasa De javu,” Ujar Ayu.
“Oh ya?....dengan siapa Ayu?” Tanyaku sembari terkekeh mencoba mencairkan suasana.
“Namanya Karen Juga,” Jawab Ayu dengan mata berbinar.
Kali ini Mata Karen terbelalak, mau tak mau harus ikut terkejut dengan ujaran Ayu.
“Pertemuan yang ajaib Ayu,” Bisik Karen dan tersenyum.
Ayu tiba-tiba menangis. Butir demi buitr air mata jatuh membasahi pipinya.
“Ayu..kok nangis, kenapa?” Ujar Karen  panik melihat gadis itu menangis secara tiba-tiba.
“Nggak apa-apa Karen, aku hanya sedang lelah menunggu saja,” Ujar Ayu menyeka air mata, Lalu beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Karen sendiri yang termangu meratapi rintikan hujan yang terjatuh ke bumi.
Hujan sudah reda saat Karen hendak bangkit dari kursi kayu itu, namun langkahnya terhenti ketika melihat selembar kertas tergeletak di lantai Bale itu dan Karen memungut selembar kertas yang bertuliskan:
Dear Karen,
Sekarang aku tahu, aku bisa mencintaimu selamanya, menulis tentangmu selamanya, tapi aku tak bisa hidup dengan bayanganmu selamanya. Semua hanya masa lalu, khan? Aku harus melanjutkan hidup dan berhenti memikirkanmu, Tapi kamu harus tahu, bahwa aku akan selalu mencintaimu. Mengenalmu adalah keajaiban yang tak pernah terbayangkan, Seperti setahun yang lalu kamu pernah mengatakan padaku bahwa pertemuan kita adalah sebuah keajaiban.
Selamat tinggal
Ayu,

Selasa, 06 Maret 2012

Kekasih Sahabatku



Jogjakarta, February, 2012
Seperti ada sesuatu yang remuk dibalik dada Angel, ketika melihat perempuan yang menggandeng lengan Reno siang tadi. Dari Awal Aku memang sudah tahu bahwa mencintaimu adalah sebuah keselahan besar. Mencintai Don juan sepertimu sama seperti melubangi hati sendiri. Sakit dan Pedih yang Angel rasakan membuatnya meringkuk disudut kamarnya yang temaram. Tak lama setelah itu pandangan matanya mengabur dan air mata pun  mebasahi pipinya. Angel merasa menjadi perempuan paling bodoh di dunia mempercayai begitu saja alasan Reno sudah sepekan tidak mengunjungi dirinya ke Jogja karena sedang sibuk dengan bisnis barunya di Solo.
“You liyer….You player”, teriak Angel histeris merobek-robek foto dirinya bersama Reno.
***
Pagi harinya Angel bangun dengan mata sembab akibat menangis semalaman. Ia tengah sibuk mengompres matanya menggunakan es batu yang dibungkus dengan sapu tangan. Lalu dengan satu tangan kanannya Angle memencet angka 1 panggilan cepat ke Reno.
“Hallo Reno…, Ren gue minta mulai sekarang kita nggak usah ketemu lagi ya”, ujar Angel
“Loh Kenapa Ngel”, Tanya Reno.
Hening untuk beberapa detik itu Angel gunakan untuk mengatur nafasnya.
“Gue, mau menikah”, dusta Angel dan Klik telpon terputus. Ia hempaskan ponselnya ke sofa bludru tempat ia terduduk.
Tak lama setelah itu, ponsel Angel berdering. Ia melirik ke layar ponselnya tertera nama “Reno” disana. Lama sekali ponsel itu meraung-raung. Angel hanya menatapnya dingin penuh kebencian terhadap sosok laki-laki yang ada di seberang sana.
“Arghhhhh”, teriak Angel, kepedihannya semakin membuncah mendengar ponsel yang  terus menerus berdering . Ia ambil ponselnya dan membelesakkannya kedalam gelas yang berisi air putih di atas meja. Angel tahu dia nggak meungkin selamanya dekat dengan Reno, Player, sementara semakin hari benih-benih cinta di hatinya kian tumbuh subur.
***
Tiga Bulan Yang lalu
Jogjakarta, November, 2011
Gaun hitam yang ia kenakan membuat penampilanya mempesona malam ini. Rambut panjang hitam legam ia biarkan terurai begitu saja. Air mukanya memancarkan keceriaan ketika mendengar suara bel apartementnya berbunyi. Gadis itu lalu beranjak mendekati pintu. Membuka daun pintu dan menemukan sosok lelaki bermata coklat dibaliknya.
“Hay….”,ujar sosok itu disela cipika cipiki yang mereka lakukan.
“Mau mampir dulu atau langsung Ren”, ujar gadis itu, matanya berbinar.
“Langsung saja ya, anak-anak sudah nunggu thu”, Ucapnya sembari melingkarkan tanganya ke pinggang gadis itu.
Gadis itu bernama Angelina, biasa di sapa angle. Single yang high quality. Selain bekerja sebagai penyiar radio di Jogjakarta ia mempunyai kesibukan untuk menyelesaikan study SII nya di salah satu Universitas Negeri Jurusan Komunikasi di kota ini. Sedangkan sosok bermata coklat itu Reno seorang pengusaha kaya raya asal Solo. Mengurusi 2 hotel keluarga dijogja dan solo serta  usaha batik adalah rutinitas sehari-harinya.
Mereka  berdua tidak sedang berpacaran, hanya casual dating saja karena sudah berteman baik sejak SMU. Tubuh tinggi langsing yang di dukung dengan parasnya yang cantik tak sedikit pria tajir yang mengantri ingin berkencan dengan Angel. Tapi Selama ini memang Angel selalu “available” untuk Reno. Ia selalu mengosongkan jadwalnya bahkan membatalkan janji dengan pria lain ketika Reno tiba-tiba mengajaknya untuk bertemu. Bisa 2-3 kali dalam seminggu Reno bisa bolak-balik dari Solo ke Jogja untuk menemui Angel. Dan tak jarang juga Reno sampai menginap di apartemen Angel di Jogja. Semua itu mereka lakukan tanpa sebuah komitement apapun, hanya atas dasar Fun saja. Ya, sudah biasa pemandangan seperti itu terjadi di kota-kota besar seperti Jogjakarta.

***
Jogjakarta, Maret 2012
Suatu pagi Angel merasa badannya terasa lemas, kepalanya pusing , dan hampir tiap pagi ia selalu muntah-muntah. Kepanikan melanda dirinya ketika dia mengingat bahwa dirinya sudah lebih dari sebulan ini tidak juga datang bulan.
“Benerkah gue hamil?”,bisiknya. Tanpa pikir panjang Angel bergegas turun ke Apotek di bawah Apartementnya untuk membeli alat tes kehamilan.
Benar saja setelah menggunakan alat tersebut dapat diketahui bahwa saat ini dia sedang mengandung. Angel syok. Ia mengurung diri seharian di dalam kamarnya. Meringkuk di sudut ranjang menikmati kepedihan dan kegamangan hatinya. Ia tahu betul siapa ayah biologis anak yang sedang bersemayam di rahimnya itu. Ya, Reno lah orangnya, hanya dengan Reno Angel melakukannya.
Seperti ada kekuatan yang besar muncul secara tiba-tiba dalam diri Angel.. Ia menghapus air matanya, berulang kali ia lakukan hal itu sampai tak ada air mata yang membasahi pipinya maupun air mata baru yang keluar dari kedua bola matanya. Angel beranjak dan menyambar kunci mobil yang tergeletak di lantai kamarnya. Melaju kencang menerabas jalanan menuju Solo.
“Gue harus lakukan ini”,ujar Angel sembari berkonsentrasi dibalik kemudi mobilnya. “Aku nggak mau kelak anakku tak memiliki ayah”, lanjutnya.
Akhirnya setelah menempuh perjalanan hampir 1,5 jam dari Jogja, Angel sampai juga di pelataran parkir sebuah Hotel di Solo milik keluarga Reno. Kedatangan Angel disambut oleh salah seorang Security Senior yang kebetulan mengenal Angel. Ayah Angel  adalah salah satu pemilik saham terbesar kedua di Hotel Reno.
“Malam mbak Angel”,sapa satpam senior itu.
“Malam Pak,….Pak Reno nya ada di ruangannya pak”,tanya Angel.
“Ada mbak, silahkan silahkan”, Ujar Satpam Senior mempersilahkan Angel masuk.
Dengan langkah gontai Angel menuju ruangan Reno. Mata dan Senyumnya berbinar ketika melihat Reno dari sela-sela pintu yang terbuka sedikit sedang terduduk di sudut meja. Perlahan Angle melangkah mendekati pintu ruangan Reno, dan membuka lebar pintunya.
“Ren….”,Sapa Angel dan secara bersamaan ia melihat sosok lain selain Reno di ruangan itu. Ya, wanita yang tempo hari ia lihat sedang menggandeng mesra tangan Reno.
“Angel…”, Ujar Reno terkejut.
“Oh sory, gue ganggu ya….”,Ucap Angel sambil berbalik dan mengambil langkah seribu meninggalkan ruangan Reno.
“Ngel….Angel….”,teriakan Reno tak sedikitpun ia hiraukan. Angel berlalu begitu cepat hingga Reno terengah-engah untuk dapat menyusulnya.
Hingga sampai di depan receptionist Angel merasa ada yang mencengkeram tangannya kuat.
“Ngel….Tunggu”, Bentak Reno. Dan secepat kilat tubuhnya berbalik menghadap Reno.
“Ngel…Loe kenapa sih”, Ujar Reno. “Loe kok nangis”, lanjutnya ketika melihat mata Angel basah.
“Nggak apa-apa Ren, Sory…lepasin gue, gue harus pergi”, Ujar Angel berusaha melepaskan cengkraman tangan Reno. Angel pergi meninggalkan Reno yang tengah di landa kebingungan karena sikap Angel yang akhir-akhir ini berubah
***
Solo, February 2012.
Reno masih termangu menatap layar computer di meja kerjanya. Hari ini banyak kerjaan, tapi nampaknya Reno sedang tidak berkonsentrasi untuk bekerja. Badannya ada disini, namun pikiranya sedang memikirkan sosok itu. Ya benar, dia sedang memikirkan Angel, sahabatnya yang sudah mulai berubah akhir-akhir ini.
Angel yang Reno ketahui adalah sosok perempuan yang ramah, murah senyum, dan ceria, tiba-tiba mendadak dingin, sinis, dan pemurung. Semenjak Angel melarang dirinya untuk bertemu, Reno mejauh namun tak benar-benar menjauh dari Angel.  Tanpa sepengetahuannya, Reno pernah beberapa kali mengikuti Angel, mengamati aktifitas Angle dan Ia pun tahu akhir-akhir ini Angel jarang sekali masuk kerja dengan alasan sakit.  Sebenarnya Reno sangat peduli terhadap Angel.
 “Ngel,gue ikut senang semisal loe beneran akan nikah sama orang yo loe cinta, meskipun sebenarnya gue merasa kehilangan loe”, Ujar Reno terlebih terhadap dirinya sendiri.
Beep Beep
Sebuah pesan singkat masuk dari Blakcberrynya.
“Pesan dari nomor tak dikenal”, Ucapnya sambil membuka pesan singkat tersebut yang isinya:
Reno…ini gue Angel, sahabat loe.
Sebenernya gue mau mengatakan sesuatu hal semalam. Gue merasa, waktu ngelihat loe dengan perempuan itu….semua udah terlambat, makanya gue lebih pilih diam.
Reno…dalam perut gue ada darah daging loe. Gue nggak mau menuntut apa-apa dari loe Ren, karena gue tahu itu nggak mungkin terjadi. Tapi, satu hal yang musti loe tahu, bahwa gue nggak mungkin ngelakuin ini semua tanpa cinta, gue baru sadar, gue cinta loe.
Reno…gue pamit. Besok gue mau pindah ke Singapura, gue udah memutuskan untuk tinggal disana bersama mama. Disana gue akan membesarkan anak ini.
***
Jogjakarta, February 2012
Hujan sudah mereda ketika Reno tiba di depan loby Apartement. Tanpa pikir panjang, Reno menuju ke Apartement Angle. Ia mengetuk pintu itu, dan tak lama kemudian seseorang yang sangat ia rindukan muncul dari balik pintu.
“Reno…”, Angel terbelalak melihat Reno ada di hadapannya.
“Ngel….”, sapa Reno. Ia tak mampu berucap, matanya berkaca-kaca melihat Angel semakin kurus sekarang. Matanya sembab, pertanda ia sudah terlalu banyak menangis karenanya.
Suasana tiba-tiba mendadak hening. Masing-masig berada dalam pikirannya masing-masing.
“Gue juga nggak mungkin melakukan itu tanpa Cinta Ngel…”, Ucap Reno memecah keheningan.
“Loe dan juga semua orang boleh mengira kalau gue ini Player, Don Juan, tapi satu hal yang harus loe tahu….cuman sama loe gue ngelakuin itu”, Ucap Reno. “Ngel…. I think I love You”, Reno memeluk erat tubuh mungil itu.
“Loe Cinta yang selama ini gue cari”, Ujar Reno. Tangis Angel pecah dalam pelukan Reno, pelukan yang hangat dan membuatnya merasa nyaman.
“Cewek itu….yang sama loe semalam”, Ucap Angel sesenggukan. “ Loe Nampak serasi dengan nya”, Lanjut Angel.
“Ngel, dia Nadine, sepupu gue yang baru pulang dari malasya, dia akan bergabung di Hotel, makanya gue lebih sering sama Nadine untuk mengajari dia”, penjelasan Reno sudah cukup membuat Angel lega, dan dia percaya sahabatnya. Senyumnya kembali mengembang.
“Ngel, gue….mohon jangan pergi. Kita akan sama-sama membesarkan anak yang ada dalam rahim loe sekarang”, Reno memohon dan perlahan melepaskan pelukannya.
“Reno…tak ada alasan bagiku untuk pergi, Gue cinta loe”, Ujar Angel menatap Reno dalam-dalam.
 “Ternyata lamanya persahabatn kita……tak membuat kita saling mengerti tentang perasaan kita masing-masing ya”, Ujar Reno terkekeh.

Sabtu, 03 Maret 2012

Kereta



Kereta pertama melintas di hadapanku
Tentu aku tak akan melewatkanya berlalu begitu saja
Untuk menunggu....aku tak punya banyak waktu
Aku harus berlari mengejar ketinggalan ini
Jadi....kuputuskan untuk menaiki kereta pertama yang ada di hadapanku

Bunyi peluit tlah terdengar
Itu tandanya Kereta akan beranjak berlalu menuju ke stasiun berikutnya
Ya, didalam kereta itu ada aku yang sudah tak sabar
Tak sabar menantikan kebahagiaan di kota lain.

Suka cita mengawali perjalananku
Bersama para awak kereta yang baik hati dan ramah
Detik demi detik perlahan beranjak
Mengejar ketinggalanku

Ah, Kenapa tiba-tiba kereta ini menjadi panas dan penuh sesak?
Bersama para penumpang dan pengamen jalanan didalamnya.
Hufft...aku menemukan ketidaknyamanan disini
Dilema melandaku,
Harus loncat dari kereta ini atau memaksakan diri berada di dalamnya?


Kucoba untuk bertahan di dalamnya
Ah, betapa terkejutnya aku...
Ketika tahu bahwa Kereta pertama tak membawaku ke kota tujuanku
Sialan….runtukku dalam hati
Ternyata aku salah naik kereta
Ini bukan jalan menuju kota tujuanku....
Sedih, Kecewa, dan Menyesal yang kurasakan kini.
Ya, aku harus segera memutuskan
Untuk turun dari kereta ini lalu menunggu kereta berikutnya
Ya, aku tak ingin terlalu jauh tersesat
.

PS: untuk seorang sahabat yang tengah di landa kebimbangan, yang terbaik tidak selalu datang yang pertama, bisa jadi kedua ketiga dst..........